Saham- Saham Yang Terdampak Karena Harga minyak Turun
Harga Minyak Rontok Setelah Sinyal Perdamaian AS Iran dan Saham Energi AS Ikut Terseret Turun
Pasar minyak global baru saja mengalami salah satu hari paling dramatis dalam sejarah perdagangan energi. Pada 9 Maret 2026, harga Brent crude sempat melonjak mendekati $120 per barel, didorong ketegangan militer antara Amerika Serikat dan Iran. Namun hanya dalam hitungan jam, harga berbalik arah dan jatuh lebih dari 30% ke sekitar $81.
Pemicu perubahan drastis ini datang dari pernyataan Presiden Donald Trump yang menyatakan bahwa konflik dengan Iran sudah “hampir selesai” dan Amerika Serikat sedang mempertimbangkan langkah untuk membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz.
Komentar tersebut langsung memicu optimisme pasar bahwa pasokan minyak global akan segera kembali normal. Ketika risiko geopolitik mulai mereda, “geopolitical premium” yang sebelumnya mendorong harga minyak pun langsung menghilang.
Perjalanan Harga Minyak yang Ekstrem
Beberapa minggu sebelumnya, pasar minyak berada dalam kondisi bullish ekstrem. Sejak akhir Februari, harga minyak telah melonjak lebih dari 35% setelah serangan militer AS dan Israel terhadap Iran menyebabkan penutupan Selat Hormuz.
Selat ini merupakan jalur paling vital bagi perdagangan energi global.
Sekitar 20% pasokan minyak dunia melewati jalur sempit tersebut setiap harinya. Ketika jalur ini terganggu, pasar langsung bereaksi dengan lonjakan harga.
Namun ketika muncul harapan bahwa jalur pelayaran akan kembali dibuka, arah pasar berubah drastis.
Pada 10 Maret, harga mulai stabil kembali dengan:
-
WTI crude sekitar $85 per barel
-
Brent crude di bawah $90
Meski masih relatif tinggi, harga ini jauh di bawah puncak kepanikan yang terjadi sehari sebelumnya.
Saham Energi AS Ikut Terpukul
Penurunan harga minyak langsung berdampak pada saham energi di Amerika Serikat.
Sektor energi dalam indeks S&P 500 melemah sekitar 1.3% dalam dua hari perdagangan terakhir, mencerminkan kekhawatiran investor bahwa harga minyak yang lebih rendah akan menekan profitabilitas perusahaan eksplorasi dan produksi.
Bagi perusahaan upstream, harga minyak yang tinggi adalah sumber utama keuntungan. Ketika harga turun, margin menyempit dan arus kas ikut tertekan.
Akibatnya, beberapa perusahaan mungkin harus:
-
mengurangi anggaran eksplorasi
-
memperlambat proyek baru
-
menyesuaikan program buyback atau dividen
Saham Energi AS yang Turun Setelah Harga Minyak Anjlok
Penurunan tajam harga minyak global langsung memberikan tekanan pada saham-saham energi di Amerika Serikat. Ketika harga crude turun, perusahaan yang fokus pada eksplorasi dan produksi biasanya paling terdampak karena pendapatan mereka sangat bergantung pada harga minyak.
Berikut beberapa saham energi besar yang mengalami penurunan setelah harga minyak berbalik arah:
1. Chevron (CVX)
Penurunan harga saham: sekitar -1.66%
Alasan:
Chevron memiliki eksposur besar pada produksi minyak global. Ketika harga crude turun tajam, pendapatan dari operasi upstream ikut tertekan karena harga jual minyak menjadi lebih rendah. Hal ini dapat memengaruhi profitabilitas proyek eksplorasi serta membuat perusahaan lebih berhati-hati dalam belanja modal (capital expenditure).
Cek Harga Chevron Hari Ini!
2. ExxonMobil (XOM)
Penurunan harga saham: sekitar -1.53%
Alasan:
Sebagai salah satu produsen minyak terbesar di dunia, ExxonMobil sangat sensitif terhadap perubahan harga crude. Lebih dari setengah pendapatan perusahaan berasal dari produksi minyak dan gas. Ketika harga minyak turun, arus kas dari produksi langsung menurun sehingga berpotensi memengaruhi program buyback saham dan pembayaran dividen.
Cek Harga ExxonMobil Hari Ini!
3. ConocoPhillips (COP)
Penurunan harga saham: sekitar -2.46%
Alasan:
ConocoPhillips merupakan perusahaan yang fokus pada eksplorasi dan produksi (upstream). Model bisnis ini membuatnya sangat bergantung pada harga minyak global. Ketika harga crude turun, margin produksi shale di Amerika Utara ikut tertekan, terutama pada proyek dengan biaya produksi yang lebih tinggi.
Cek Harga Conoco Hari Ini!
4. Occidental Petroleum (OXY)
Penurunan harga saham: sekitar -3.45%
Alasan:
Occidental memiliki tingkat utang yang relatif tinggi setelah akuisisi Anadarko beberapa tahun lalu. Ketika harga minyak turun, pendapatan perusahaan ikut menurun sehingga kemampuan menghasilkan free cash flow untuk membayar utang menjadi lebih terbatas. Hal ini membuat sahamnya lebih sensitif terhadap volatilitas harga minyak.
Cek Harga OXY Hari Ini!
5. EOG Resources (EOG)
Penurunan harga saham: sekitar -2.87%
Alasan:
EOG menggunakan model dividen variabel yang sangat bergantung pada free cash flow perusahaan. Ketika harga minyak turun, arus kas yang dihasilkan dari produksi juga menurun sehingga potensi pembayaran dividen kepada investor bisa berkurang.
Cek Harga EOG Hari Ini!
6. Devon Energy (DVN)
Penurunan harga saham: sekitar -2.03%
Alasan:
Devon Energy juga memiliki struktur dividen yang bergantung pada harga minyak. Penurunan harga crude langsung menekan pendapatan produksi dari aset shale di Amerika Serikat, yang pada akhirnya dapat mengurangi distribusi dividen kepada pemegang saham.
Cek Harga Devon Energy Hari Ini!
Refiner Justru Bisa Diuntungkan
Menariknya, tidak semua perusahaan energi dirugikan oleh penurunan harga minyak.
Perusahaan refining justru bisa mendapatkan keuntungan dari input crude yang lebih murah.
Salah satu contoh utama adalah Marathon Petroleum (MPC).
Sebagai salah satu operator kilang terbesar di Amerika Serikat, MPC membeli crude oil sebagai bahan baku untuk memproduksi bensin dan produk energi lainnya. Ketika harga crude turun sementara permintaan bahan bakar tetap stabil, margin refining bisa meningkat.
Inilah sebabnya mengapa saham refiner sering kali bergerak berbeda dari perusahaan eksplorasi minyak.
Outlook Pasar Minyak ke Depan
Meski harga minyak turun tajam, ketidakpastian masih sangat tinggi.
Jika negosiasi diplomatik berhasil dan Selat Hormuz kembali dibuka sepenuhnya, harga minyak berpotensi turun lebih lanjut ke kisaran $70–$80 per barel.
Namun jika konflik kembali memanas atau Iran mengambil langkah eskalasi baru, harga minyak bisa melonjak kembali dengan cepat.
Selain faktor geopolitik, keputusan produksi dari negara-negara OPEC+ juga akan memainkan peran penting dalam menstabilkan pasar.
Kesimpulan
Pergerakan ekstrem harga minyak dalam beberapa hari terakhir menunjukkan betapa besar pengaruh geopolitik terhadap pasar energi. Ketika konflik meningkat, harga minyak melonjak tajam. Tetapi ketika muncul harapan resolusi, pasar bisa berbalik arah dengan kecepatan yang sama. Bagi investor, volatilitas seperti ini menciptakan peluang sekaligus risiko besar.
Saham eksplorasi minyak sangat bergantung pada harga crude, sementara perusahaan refining seperti MPC justru dapat memperoleh keuntungan dari minyak yang lebih murah.
Yuk Mulai Investasi di Saham AS Sekarang!
Sekarang kamu bisa beli saham AS dari perusahaan ternama seperti NVIDIA, Intel, AMD, Google, Apple, hingga Unilever di Reku. Download aplikasi Reku sekarang dan mulai berinvestasi di aset global!
Disclaimer: Analisa market ini adalah hal yang bersifat informasional. Ini bukan merupakan tawaran untuk menjual atau ajakan untuk membeli atau menjual aset kripto dan saham AS apa pun di PT Rekeningku Dotcom Indonesia, perusahaan yang dibatasi oleh pihak atau entitas lain yang diorganisir, dikendalikan, atau dikelola oleh Reku, dan oleh karena itu tidak dapat diandalkan penuh sehubungan dengan pembelian atau penjualan aset kripto dan saham AS.
Dengan melakukan perdagangan aset kripto dan saham AS berarti nasabah sudah mengetahui ada unsur resiko di dalam aktivitas tersebut. Perubahan harga aset kripto sangat fluktuatif. Diharapkan menggunakan analisa cermat sebelum melakukan aktivitas membeli atau menjual aset kripto dan saham AS. Kami tidak memaksa nasabah untuk melakukan jual-beli aset kripto dan saham AS sebagai investasi atau mencari keuntungan, yang berarti semua aktivitas perdagangan merupakan keputusan individu dari pengguna.

