Investasi
Trade Kripto
Futures
Jelajah
Wallet
Learning Hub
Keamanan & Regulasi
Unduh Aplikasi Reku
google-icon

Reku Kampus

Crypto
Saham
Trading
Investasi
Finansial
Teori
Kamus
Mengungkap Perbedaan S&P 500 dengan IHSG
Saham
Bagikan!

Mengungkap Perbedaan S&P 500 dengan IHSG

15 August 2024
5 menit membaca
Mengungkap Perbedaan S&P 500 dengan IHSG

S&P 500 dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) adalah dua indeks pasar saham yang sering menjadi acuan bagi investor untuk mengukur kinerja pasar keuangan. Meskipun keduanya memiliki fungsi serupa sebagai indikator pasar, terdapat perbedaan mendasar antara S&P 500 dan IHSG dalam hal cakupan, komposisi, metode perhitungan, dan relevansinya bagi investor. Artikel ini akan membahas perbedaan-perbedaan tersebut secara mendalam untuk memberikan pemahaman yang jelas bagi investor, baik di pasar global maupun Indonesia.

1. Pengertian dan Cakupan Geografis

S&P 500 (Standard & Poor’s 500) adalah indeks pasar saham yang melacak kinerja 500 perusahaan besar yang terdaftar di bursa saham Amerika Serikat, seperti New York Stock Exchange (NYSE) dan Nasdaq. Indeks ini mencakup perusahaan dari berbagai sektor, seperti teknologi, keuangan, kesehatan, dan barang konsumsi, yang secara kolektif mewakili sekitar 80% dari total kapitalisasi pasar saham AS. S&P 500 dianggap sebagai indikator utama kesehatan ekonomi AS dan sering digunakan sebagai tolok ukur kinerja portofolio investasi global.

Sebaliknya, IHSG adalah indeks utama Bursa Efek Indonesia (BEI) yang mencakup semua saham yang terdaftar di bursa tersebut. IHSG mencerminkan kinerja pasar saham Indonesia secara keseluruhan, termasuk perusahaan dari berbagai skala, mulai dari perusahaan besar hingga kecil, yang beroperasi di berbagai sektor seperti perbankan, pertambangan, properti, dan agribisnis. IHSG lebih berfokus pada dinamika ekonomi Indonesia dan menjadi acuan utama bagi investor domestik maupun asing yang tertarik pada pasar Indonesia.

Perbedaan utama di sini adalah cakupan geografis: S&P 500 berfokus pada pasar AS, yang merupakan ekonomi terbesar di dunia, sedangkan IHSG mencerminkan pasar Indonesia, yang merupakan ekonomi berkembang dengan karakteristik dan risiko yang berbeda.

2. Komposisi dan Jumlah Konstituen

S&P 500 terdiri dari 500 perusahaan yang dipilih berdasarkan kriteria ketat, seperti kapitalisasi pasar minimum, likuiditas, dan profitabilitas. Perusahaan-perusahaan ini, seperti Apple, Microsoft, dan Amazon, umumnya adalah pemimpin di industri masing-masing dan memiliki pengaruh global. Komposisi S&P 500 didominasi oleh sektor teknologi (sekitar 30% dari indeks), diikuti oleh sektor keuangan dan kesehatan. Pemilihan konstituen dilakukan oleh komite S&P Dow Jones Indices, yang memastikan bahwa indeks ini mencerminkan keragaman ekonomi AS.

Di sisi lain, IHSG mencakup lebih dari 800 saham (per 2025) yang terdaftar di BEI, tanpa batasan jumlah konstituen seperti S&P 500. Komposisi IHSG sangat dipengaruhi oleh sektor keuangan, terutama perbankan, yang menyumbang porsi besar dari kapitalisasi pasar indeks ini. Perusahaan besar seperti Bank Central Asia (BCA), Bank Rakyat Indonesia (BRI), dan Telkom Indonesia memiliki bobot signifikan dalam IHSG. Berbeda dengan S&P 500, IHSG tidak memiliki proses seleksi konstituen yang ketat; semua saham yang terdaftar otomatis menjadi bagian dari indeks ini.

3. Metode Perhitungan

Kedua indeks ini menggunakan metode perhitungan kapitalisasi pasar tertimbang, tetapi ada perbedaan dalam detailnya. S&P 500 menggunakan kapitalisasi pasar tertimbang mengambang bebas (free-float market capitalization), yang hanya mempertimbangkan saham yang tersedia untuk diperdagangkan di pasar (tidak termasuk saham yang dimiliki oleh pemerintah atau pemegang saham besar yang tidak diperdagangkan).

Bobot setiap perusahaan dalam S&P 500 dihitung berdasarkan nilai pasar saham mengambang bebasnya, sehingga perusahaan dengan kapitalisasi pasar lebih besar memiliki pengaruh lebih besar terhadap pergerakan indeks.

IHSG juga menggunakan metode kapitalisasi pasar tertimbang, tetapi tidak secara eksplisit hanya mempertimbangkan saham mengambang bebas. Hal ini berarti saham yang dimiliki oleh pemegang saham besar, seperti pemerintah atau pendiri perusahaan, tetap dihitung dalam perhitungan bobot indeks.

Akibatnya, pergerakan saham-saham besar seperti bank-bank BUMN dapat sangat memengaruhi IHSG, meskipun saham tersebut mungkin memiliki likuiditas rendah di pasar.

4. Volatilitas dan Risiko

S&P 500 cenderung memiliki volatilitas yang lebih rendah dibandingkan IHSG karena pasar AS lebih matang dan stabil, dengan regulasi yang ketat dan likuiditas yang tinggi. Selain itu, diversifikasi sektor dalam S&P 500 membantu mengurangi risiko spesifik sektor. Namun, S&P 500 tetap rentan terhadap peristiwa global, seperti krisis keuangan atau perubahan suku bunga Federal Reserve.

Sebaliknya, IHSG lebih volatil karena Indonesia adalah pasar berkembang yang sensitif terhadap faktor eksternal, seperti fluktuasi harga komoditas, nilai tukar rupiah, dan kebijakan moneter global. Selain itu, dominasi sektor keuangan dalam IHSG membuatnya rentan terhadap perubahan suku bunga domestik dan kondisi sektor perbankan. Investor di IHSG juga harus mempertimbangkan risiko politik dan regulasi lokal yang dapat memengaruhi pasar.

5. Relevansi bagi Investor

S&P 500 adalah pilihan populer bagi investor global yang ingin berinvestasi di pasar saham AS. Banyak produk investasi, seperti ETF (Exchange-Traded Funds) dan reksa dana, didasarkan pada S&P 500, seperti SPY atau VOO. Indeks ini menarik bagi investor yang mencari eksposur ke perusahaan global dengan stabilitas relatif tinggi dan potensi pertumbuhan jangka panjang.

IHSG, di sisi lain, lebih relevan bagi investor yang fokus pada pasar Indonesia atau ingin mendiversifikasi portofolio mereka ke pasar berkembang. IHSG menawarkan peluang pertumbuhan yang lebih tinggi, tetapi juga disertai dengan risiko yang lebih besar. Produk investasi berbasis IHSG, seperti reksa dana indeks atau ETF LQ45, lebih populer di kalangan investor domestik.

6. Kinerja Historis

Secara historis, S&P 500 telah menunjukkan pertumbuhan yang konsisten dalam jangka panjang, dengan rata-rata pengembalian tahunan sekitar 7-10% setelah inflasi. Namun, kinerja ini bergantung pada kondisi ekonomi global. IHSG, meskipun sering kali menawarkan pengembalian yang lebih tinggi dalam periode pertumbuhan, juga mengalami penurunan yang lebih tajam selama krisis, seperti pada tahun 1998 atau 2008.

Tabel Perbandingan IHSG dan S&P 500

Aspek

S&P 500

IHSG

Cakupan Geografis

Pasar saham Amerika Serikat

Pasar saham Indonesia

Jumlah Konstituen

500 perusahaan besar

Lebih dari 800 saham (seluruh saham di BEI)

Sektor Dominan

Teknologi (30%), keuangan, kesehatan

Keuangan (terutama perbankan), pertambangan, properti

Metode Perhitungan

Kapitalisasi pasar tertimbang mengambang bebas

Kapitalisasi pasar tertimbang (termasuk saham non-mengambang)

Volatilitas

Relatif rendah, pasar matang

Relatif tinggi, pasar berkembang

Relevansi Investor

Investor global, fokus stabilitas dan pertumbuhan jangka panjang

Investor domestik dan pasar berkembang, peluang pertumbuhan tinggi

Produk Investasi

ETF (SPY, VOO), reksa dana berbasis S&P 500

Reksa dana indeks, ETF LQ45

Risiko Utama

Krisis keuangan global, perubahan suku bunga Federal Reserve

Fluktuasi komoditas, nilai tukar rupiah, risiko politik dan regulasi lokal

Jika kamu sedang mempertimbangkan untuk memulai investasi atau ingin memperluas portofolio investasi kamu, pertimbangkan untuk menggunakan platform yang terpercaya dan mudah digunakan. Salah satu pilihan yang bisa kamu eksplorasi adalah Reku. Reku menyediakan platform yang dirancang untuk memudahkan kamu dalam berinvestasi, bahkan jika kamu baru memulai.

Dengan berbagai fitur yang intuitif dan dukungan yang baik, Reku membantu kamu mengelola investasi dengan lebih efisien dan aman. Pertimbangkan Reku untuk mendiversifikasi portofolio investasi kamu dan memanfaatkan peluang yang ada untuk masa depan finansial yang lebih stabil.

Beli Saham AS dengan Aplikasi Reku, Yuk!

Gunakan aplikasi Reku untuk beli saham AS dengan cara instan. Terdapat lebih dari 500 pilihan saham AS di Reku. Aplikasi ini memungkinkan investor untuk membeli saham AS secara online dengan aman karena telah diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Langkah-langkah Membeli Saham AS di Reku

  1. Unduh dan Daftar: Unduh aplikasi Reku dan lakukan pendaftaran dengan mengikuti petunjuk yang ada.
  2. Verifikasi Akun: Lakukan verifikasi akun sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
  3. Deposit USD: Lakukan deposit dalam bentuk Dolar Amerika ke aplikasi Reku, GRATIS konversi dari IDR ke USD di aplikasi Reku.
  4. Pilih Saham: Cari saham AS yang ingin dibeli. Jika bingung, kamu juga bisa menggunakan fitur Reku Packs dan membiarkan pakar dan analis memilihkan untukmu.
  5. Beli Saham: Setelah memilih saham, lakukan pembelian instan di aplikasi Reku hanya dengan satu swipe.
Kasih Maharani
PenulisKasih Maharani
Bagikan!
Artikel Terkait
    Apa Itu ETF QQQ, dan Bagaimana Cara Belinya?
  1. Apa Itu ETF QQQ, dan Bagaimana Cara Belinya?
  2. 12 August 2025
    1 menit membaca
    Saham
    Cari Tahu Cara Baca Laporan Keuangan Saham sebelum Berinvestasi!
  3. Cari Tahu Cara Baca Laporan Keuangan Saham sebelum Berinvestasi!
  4. 29 July 2025
    1 menit membaca
    Saham
    13 Saham Teknologi AS yang Bagus untuk Investasi Jangka Panjang!
  5. 13 Saham Teknologi AS yang Bagus untuk Investasi Jangka Panjang!
  6. 24 July 2025
    1 menit membaca
    Saham
Analisis
Liat analisis pasar hingga makro secara mendalam dan lengkap
Blog
Pelajari lebih lanjut strategi investasi dan serba-serbi dunia finansial
FAQ
Cari tahu berbagai berita kripto dan saham terbaru
Market
Mulai jelajahi dan investasi aset Crypto dan Saham AS di Reku