MarketTrade
Products
Wallet
Learning Hub
Unduh Aplikasi Reku
google-icon

Reku Kampus

Blog
Teori
Tutorial
Kamus Kripto
Apa Itu Standar Deviasi? Pelajari Cara Menggunakannya untuk Sukses Finansial!
Teori
Bagikan!

Apa Itu Standar Deviasi? Pelajari Cara Menggunakannya untuk Sukses Finansial!

20 June 2024
6 menit membaca
Apa Itu Standar Deviasi? Pelajari Cara Menggunakannya untuk Sukses Finansial!

Apakah kamu sering mendengar istilah standar deviasi dalam dunia investasi, tapi belum sepenuhnya memahami apa itu standar deviasi dan mengapa itu penting? Yuk, kita bahas bersama! Setiap instrumen investasi tentu memiliki risiko, dan salah satu cara untuk mengukur risiko tersebut adalah dengan menggunakan standar deviasi, atau biasa juga disebut simpangan baku.

Dalam dunia investasi, memahami risiko adalah kunci untuk mengambil keputusan yang tepat. Standar deviasi adalah alat yang berguna untuk mengukur sejauh mana nilai investasi kamu dapat bervariasi dari rata-rata. Jika kamu baru memulai perjalanan investasi, penting untuk menyesuaikan tingkat risiko yang bisa ditoleransi. Seperti kata pepatah, “high risk, high return.” Jadi, mari kita pelajari lebih dalam tentang apa itu standar deviasi dan bagaimana cara menghitungnya agar kamu bisa sukses dalam dunia finansial. Simak penjelasan lengkapnya di bawah ini!

Apa Itu Standar Deviasi?

Dalam dunia investasi, memahami konsep statistik seperti standar deviasi sangatlah penting. Secara sederhana, standar deviasi mengukur seberapa jauh data dalam satu kumpulan data menyimpang dari rata-rata atau mean. Dalam konteks investasi, standar deviasi menjadi alat penting untuk mengukur risiko yang terdapat pada suatu instrumen investasi.

Semakin besar standar deviasi, semakin besar pula volatilitas atau fluktuasi harga suatu instrumen investasi. Artinya, investasi dengan standar deviasi tinggi memiliki risiko yang lebih besar karena harganya lebih sering berfluktuasi. Sebaliknya, standar deviasi yang kecil menunjukkan bahwa harga instrumen investasi cenderung lebih stabil, sehingga risikonya lebih rendah.

Standar deviasi mengukur risiko keseluruhan dari suatu instrumen investasi, seperti reksa dana atau saham. Risiko ini mencakup risiko tidak sistematis, yang dapat diminimalisir melalui diversifikasi, serta risiko sistematis, yaitu risiko pasar yang tidak dapat dieliminasi. Dengan kata lain, standar deviasi membantu investor memahami sejauh mana nilai investasi mereka bisa berubah dan seberapa besar risiko yang harus mereka tanggung.

Dalam dunia keuangan, standar deviasi sering digunakan untuk mengukur tingkat pengembalian tahunan dari investasi, memberikan gambaran tentang seberapa bergejolak investasi tersebut. Oleh karena itu, standar deviasi menjadi alat fundamental bagi analis, penasihat, dan manajer portofolio dalam menentukan strategi perdagangan dan investasi. Dengan memahami dan menggunakan standar deviasi, kamu dapat membuat keputusan investasi yang lebih bijak dan sesuai dengan toleransi risiko masing-masing.

Fungsi Standar Deviasi

Standar deviasi memiliki peran penting dalam dunia investasi, terutama dalam mengukur dan mengelola risiko. Berikut beberapa fungsi utama dari standar deviasi yang perlu Sobat Reku ketahui:

  1. Alat Ukur Risiko Investasi

Standar deviasi digunakan untuk mengukur risiko yang terkait dengan portofolio investasi. Dengan memahami standar deviasi, kamu dapat menilai seberapa besar fluktuasi nilai investasi yang mungkin terjadi. Semakin tinggi standar deviasi, semakin besar pula risiko investasi tersebut. Ini membantu kamu untuk mengambil keputusan investasi yang lebih bijak, sesuai dengan tingkat toleransi risiko masing-masing.

  1. Alat Ukur Kinerja Reksa Dana

Dalam konteks reksa dana, standar deviasi digunakan untuk menilai variasi kinerja dari waktu ke waktu. Reksa dana dengan standar deviasi tinggi cenderung memiliki kinerja yang lebih bervariasi dan, karenanya, lebih berisiko. Sebaliknya, reksa dana dengan standar deviasi rendah cenderung lebih stabil. Kamu dapat menggunakan informasi ini untuk membandingkan berbagai produk reksa dana dan memilih yang paling sesuai dengan profil risiko investasi kamu.

  1. Alat Analisis Saham

Standar deviasi juga berfungsi sebagai alat analisis saham. Dengan menganalisis standar deviasi, kamu dapat melihat apakah distribusi harga saham normal atau tidak. Jika data harga saham terdistribusi normal, maka fluktuasi harga saham tersebut cenderung dapat diprediksi. Namun, jika distribusi tidak normal dan harga jauh dari standar deviasi, ini menandakan bahwa harga saham tersebut jarang terjadi dan mungkin lebih berisiko.

Cara Menghitung Standar Deviasi

Cara menghitung standar deviasi bisa kamu lakukan menggunakan rumus berikut.
Rumus standar Deviasi:

rumus standar deviasi

Keterangan:

S = Standar deviasi

y^2 = nilai kuadrat jumlah data

y = nilai keseluruhan data

n = jumlah keseluruhan data

Penggunaan Standar Deviasi dalam Berinvestasi

Meski tingginya nilai standar deviasi berarti volatilitas juga tinggi, nyatanya tidak semua investor menyukai standar deviasi yang rendah. Ini sangat bergantung pada profil risiko dan tujuan investasi masing-masing investor. Berikut cara penggunaan standar deviasi dalam berinvestasi:

  1. Menentukan Toleransi Risiko

Setiap investor memiliki toleransi risiko yang berbeda. Investor konservatif cenderung memilih investasi dengan standar deviasi rendah karena lebih stabil dan risikonya lebih kecil. Sebaliknya, investor agresif lebih nyaman dengan investasi yang memiliki standar deviasi tinggi karena, meskipun risikonya lebih besar, potensi return juga lebih tinggi. Mengetahui standar deviasi membantu kamu untuk memilih investasi yang sesuai dengan toleransi risiko pribadi.

  1. Memonitor Performa Investasi

Standar deviasi juga berguna untuk memonitor performa investasi dari waktu ke waktu. Dengan membandingkan standar deviasi dari berbagai periode, kamu bisa melihat tren dan perubahan volatilitas, yang dapat membantu dalam menilai apakah strategi investasi saat ini masih sesuai atau perlu disesuaikan.

  1. Membuat Keputusan Investasi yang Tepat

Dengan memahami standar deviasi, kamu dapat membuat keputusan investasi yang lebih cerdas. Jika tujuan investasi jangka panjang dengan toleransi risiko rendah, memilih aset dengan standar deviasi rendah bisa menjadi pilihan yang tepat. Sebaliknya, jika kamu mencari keuntungan jangka pendek dan bersedia mengambil risiko lebih besar, aset dengan standar deviasi tinggi bisa memberikan peluang yang lebih menguntungkan.

Contoh Aplikasi Standar Deviasi dalam Investasi

Untuk memahami lebih dalam bagaimana standar deviasi digunakan dalam investasi, mari kita lihat beberapa contoh aplikasinya dalam situasi nyata.

  1. Menilai Risiko Saham Individual

Misalkan Sobat Reku sedang mempertimbangkan untuk membeli saham ABC dan XYZ. Dengan menghitung standar deviasi dari return bulanan kedua saham tersebut selama setahun terakhir, Sobat Reku menemukan bahwa saham ABC memiliki standar deviasi 5%, sedangkan saham XYZ memiliki standar deviasi 15%. Ini berarti saham XYZ lebih volatil dan memiliki risiko yang lebih tinggi dibandingkan dengan saham ABC. Berdasarkan informasi ini, Sobat Reku bisa memutuskan saham mana yang lebih sesuai dengan profil risiko kamu.

  1. Mengelola Portofolio Investasi

Katakanlah Sobat Reku memiliki portofolio yang terdiri dari saham, obligasi, dan reksa dana. Dengan menghitung standar deviasi dari return masing-masing aset dalam portofolio, Sobat Reku dapat melihat aset mana yang paling berisiko. Jika obligasi dalam portofolio memiliki standar deviasi yang sangat rendah, sementara saham memiliki standar deviasi yang tinggi, Sobat Reku bisa menyeimbangkan portofolio dengan menambah lebih banyak obligasi untuk mengurangi risiko keseluruhan.

  1. Memilih Reksa Dana

Saat memilih reksa dana, Sobat Reku mungkin melihat dua opsi: Reksa Dana A dengan standar deviasi 6% dan Reksa Dana B dengan standar deviasi 10%. Reksa Dana A lebih stabil dan kurang berisiko dibandingkan Reksa Dana B. Jika Sobat Reku adalah investor yang lebih konservatif, Reksa Dana A mungkin lebih cocok. Namun, jika kamu mencari potensi keuntungan yang lebih tinggi dan bisa mentolerir risiko, Reksa Dana B bisa menjadi pilihan yang lebih menarik.

  1. Analisis Kinerja Portofolio

Sobat Reku juga dapat menggunakan standar deviasi untuk mengevaluasi kinerja portofolio dari waktu ke waktu. Misalnya, setelah mengukur standar deviasi portofolio selama beberapa tahun, Sobat Reku melihat peningkatan volatilitas yang signifikan baru-baru ini. Ini mungkin menunjukkan bahwa pasar menjadi lebih tidak stabil, atau bahwa komposisi portofolio kamu telah berubah menjadi lebih berisiko. Dengan informasi ini, Sobat Reku dapat membuat keputusan untuk menyeimbangkan kembali portofolio guna menjaga risiko dalam batas yang dapat diterima.

Dengan memahami dan menggunakan standar deviasi, Sobat Reku dapat mengelola investasi dengan lebih baik, menilai risiko dengan akurat, dan membuat keputusan yang lebih informatif untuk mencapai kesuksesan finansial.

Keamanan Investasimu Prioritas Kami!

Aplikasi Reku tersedia di Android dan App Store. Download untuk mulai investasi lebih dari 100 aset kripto yang terdaftar. Alasan kenapa Reku menjadi pilihan bagi jutaan pengguna di Indonesia:

  • Fee transaksi sangat rendah
  • Tersedia mode Pro dan mode Lightning, cocok untuk segala jenis investor
  • Staking dengan APY hingga 12.5% dan berlisensi BAPPEBTI
  • Bisa mulai dengan modal Rp5.000
  • Analisa setiap minggu dari Crypto Researcher Reku

Tunggu apa lagi? Ayo mulai perjalanan investasimu di Reku sekarang!

Foto diambil dari Freepik.