Investasi
Market
Learning Hub
Keamanan
Biaya
Lainnya
Layanan Pengaduan Konsumen
  • PT Rekeningku Dotcom Indonesia (Reku)

    Email: [email protected]

  • Direktorat Jenderal Perlindungan Konsumen dan Tertib Niaga, Kementerian Perdagangan RI

    Telepon/WhatsApp: +62 853 1111 1010

Unduh Aplikasi Reku
google-icon

Reku Kampus

Crypto
Saham
Trading
Investasi
Finansial
Teori
Kamus
8 Cara Memilih ETF untuk Jangka Panjang bagi Investor Pemula
Saham
Bagikan!

8 Cara Memilih ETF untuk Jangka Panjang bagi Investor Pemula

02 November 2026
7 menit membaca
8 Cara Memilih ETF untuk Jangka Panjang bagi Investor Pemula

Cara memilih ETF jangka panjang perlu kamu pahami sebelum menempatkan dana selama bertahun-tahun. ETF memang menawarkan diversifikasi dalam satu produk, tetapi tidak semua ETF dirancang untuk disimpan dalam waktu lama.

Pilihan ETF yang tepat bisa membantu portofolio tumbuh lebih stabil, sedangkan pilihan yang kurang tepat bisa menggerus hasil karena biaya atau risiko yang tidak disadari. Berikut panduan praktis yang bisa kamu ikuti langkah demi langkah.

Apa itu ETF Jangka Panjang?

Sebelum masuk ke caranya, kamu perlu memahami dulu apa yang dimaksud dengan ETF jangka panjang. Istilah ini merujuk pada cara penggunaan ETF, bukan jenis produk resmi tertentu.

ETF jangka panjang adalah ETF yang cocok disimpan bertahun-tahun untuk tujuan seperti dana pensiun, pendidikan, atau pertumbuhan kekayaan. Umumnya ETF ini mengikuti indeks yang luas, berbiaya rendah, dan tidak memakai strategi rumit seperti leverage yang lebih cocok untuk trading jangka pendek.

8 Cara Memilih ETF untuk Jangka Panjang

Ada ribuan ETF yang tersedia di pasar, sehingga kamu butuh langkah yang jelas untuk menyaringnya. Delapan cara berikut bisa kamu jalankan secara berurutan agar pilihanmu lebih terarah dan tidak sekadar ikut tren.

Tentukan Tujuan dan Jangka Waktu Investasi

Langkah pertama adalah menjawab untuk apa dana ini diinvestasikan. Jawaban ini akan menjadi patokan untuk semua langkah berikutnya.

Tuliskan tujuanmu secara spesifik, misalnya dana pensiun dalam 25 tahun atau dana pendidikan anak dalam 12 tahun. Semakin panjang jangka waktunya, semakin besar ruang bagi portofolio untuk pulih dari penurunan pasar sementara, sehingga porsi ETF saham bisa lebih besar. Tujuan yang jelas juga membantu kamu tetap tenang saat pasar bergejolak, karena kamu punya alasan kuat untuk bertahan alih-alih menjual karena takut. Jangka waktu juga memengaruhi jenis ETF yang kamu pilih. Untuk tujuan di atas 10 tahun, ETF saham indeks luas umumnya menjadi pilihan utama, sedangkan untuk tujuan tiga sampai lima tahun lagi, porsi ETF obligasi biasanya perlu lebih besar agar nilai dana lebih terjaga menjelang waktunya dipakai.

Kenali Profil Risiko dan Tentukan Porsi Saham serta Obligasi

Tujuan yang sama bisa dijalani dengan cara berbeda tergantung kenyamananmu terhadap risiko. Karena itu, kenali seberapa besar penurunan nilai yang sanggup kamu tahan.

Jika kamu nyaman dengan fluktuasi besar, porsi ETF saham bisa dibuat dominan. Jika tidak, tambahkan ETF obligasi sebagai penyeimbang, lalu tingkatkan porsinya secara bertahap saat tujuanmu semakin dekat. Banyak investor memakai pendekatan inti dan pelengkap, yaitu ETF indeks luas sebagai porsi terbesar dan ETF sektor atau tematik hanya sebagai pelengkap dengan porsi kecil. Sebagai gambaran, investor muda yang agresif mungkin memilih komposisi 80% ETF saham dan 20% ETF obligasi, sedangkan investor yang lebih konservatif bisa memilih komposisi yang lebih seimbang. Tidak ada komposisi yang paling benar, yang penting komposisi tersebut sesuai dengan kondisimu dan bisa kamu jalankan secara konsisten.

Pilih ETF dengan Indeks Acuan yang Luas

Indeks acuan menentukan aset apa saja yang ada di dalam ETF. Karena itu, pilihan indeks akan menentukan sebagian besar hasil investasimu.

Untuk bagian saham, banyak investor memilih ETF yang mengikuti indeks luas seperti seluruh pasar saham Amerika atau S&P 500. Indeks yang luas membuat portofolio tidak terlalu bergantung pada satu sektor atau satu perusahaan saja. Untuk bagian obligasi, pilih ETF yang mengikuti indeks obligasi berperingkat layak investasi agar risikonya tetap terjaga.

Bandingkan Expense Ratio

Expense ratio adalah biaya tahunan yang dipotong dari aset ETF. Biaya ini terlihat kecil, tetapi dampaknya terasa besar dalam jangka panjang.

Selisih biaya 0,5% per tahun saja bisa mengurangi hasil akhir secara signifikan setelah 20 atau 30 tahun karena efek bunga majemuk. Satu indeks biasanya diikuti oleh lebih dari satu ETF dari penerbit berbeda, jadi buat daftar dua sampai tiga kandidat lalu bandingkan biayanya. Informasi ini biasanya tersedia di lembar fakta atau situs resmi penerbit ETF. Sebagai ilustrasi, dana Rp100 juta yang tumbuh rata-rata 7% per tahun selama 30 tahun akan menghasilkan nilai akhir yang jauh berbeda jika biayanya 0,05% dibanding 0,75% per tahun. Karena itu, jika dua ETF mengikuti indeks yang sama, ETF dengan biaya lebih rendah umumnya lebih menguntungkan untuk disimpan lama.

Cek Ukuran Dana dan Likuiditas

Ukuran dana atau assets under management menunjukkan seberapa besar dana yang dikelola sebuah ETF. Angka ini sering berkaitan dengan likuiditas dan keberlangsungan produk.

ETF dengan dana besar dan volume perdagangan tinggi biasanya memiliki selisih harga beli dan jual yang tipis, sehingga biaya transaksimu lebih kecil. ETF yang terlalu kecil berisiko ditutup oleh penerbitnya, sehingga kamu terpaksa menjual di waktu yang kurang ideal. Untuk jangka panjang, utamakan ETF yang sudah lama beroperasi dan dananya stabil.

Perhatikan Tracking Difference

ETF indeks bertujuan mengikuti kinerja indeks acuannya. Namun, hasilnya tidak selalu sama persis dengan indeks yang diikuti.

Selisih antara kinerja ETF dan indeksnya disebut tracking difference. Semakin kecil selisihnya secara konsisten dari tahun ke tahun, semakin baik ETF tersebut menjalankan tugasnya mengikuti indeks. Pilih ETF yang unggul secara konsisten, bukan yang kinerjanya paling tinggi dalam beberapa bulan terakhir.

Pahami Kebijakan Dividen, Pajak, dan Isi ETF

ETF saham dan obligasi Amerika umumnya membagikan dividen secara berkala. Kebijakan ini perlu kamu pahami karena memengaruhi hasil bersih yang diterima.

Investor dari Indonesia pada umumnya dikenakan pajak dividen saham AS sebesar 15%, sehingga yang diterima adalah dividen bersih setelah pajak. Dividen tersebut bisa kamu gunakan untuk membeli unit ETF lagi agar efek pertumbuhannya lebih optimal. Periksa juga daftar aset teratas di dalam ETF, dan jika kamu memilih lebih dari satu ETF, pastikan isinya tidak terlalu tumpang tindih agar diversifikasimu tidak semu. Contohnya, memiliki ETF S&P 500 sekaligus ETF seluruh pasar saham Amerika berarti sebagian besar isinya sama. Dalam kondisi seperti ini, menambah ETF obligasi atau ETF saham dari wilayah lain biasanya lebih efektif untuk menambah diversifikasi.

Hindari ETF Leverage dan Inverse

ETF leverage dan inverse dirancang untuk strategi jangka pendek. Produk ini bisa merugikan jika dipegang bertahun-tahun.

Kinerja ETF jenis ini diatur ulang setiap hari, sehingga hasilnya dalam periode panjang bisa menyimpang jauh dari indeks acuannya. Biayanya pun umumnya lebih tinggi dibanding ETF indeks biasa. Untuk tujuan jangka panjang, tetap fokus pada ETF indeks konvensional berbiaya rendah, lalu beli secara rutin dan evaluasi porsinya setahun sekali. Pembelian rutin dalam nominal tetap, misalnya setiap bulan, membantu meratakan harga beli rata-rata tanpa perlu menebak waktu terbaik masuk pasar. Saat evaluasi tahunan, kembalikan porsi saham dan obligasi ke target awal jika sudah bergeser terlalu jauh, dan hindari panik menjual ketika pasar sedang turun.

Contoh ETF untuk Jangka Panjang

Ada beberapa ETF Amerika yang sering dijadikan inti portofolio jangka panjang. Contoh berikut bersifat edukasi dan bukan rekomendasi untuk membeli.

  • VTI (Vanguard Total Stock Market ETF): Mengikuti indeks seluruh pasar saham Amerika, dari perusahaan besar hingga kecil. Diversifikasinya sangat luas dan biayanya rendah, sehingga cocok dijadikan inti portofolio saham.
  • SPY (SPDR S&P 500 ETF Trust): Mengikuti indeks S&P 500 yang berisi sekitar 500 perusahaan besar Amerika. Dananya sangat besar dan likuid, sehingga mudah dibeli maupun dijual kapan pun dibutuhkan.
  • VOO (Vanguard S&P 500 ETF): Mengikuti indeks yang sama dengan SPY, tetapi dengan expense ratio yang lebih rendah. Selisih biaya ini menjadi keunggulan tersendiri bagi investor yang berencana menyimpan bertahun-tahun.
  • BND (Vanguard Total Bond Market ETF): Berisi obligasi pemerintah dan korporasi Amerika berperingkat layak investasi. ETF ini sering dipakai untuk meredam fluktuasi portofolio saham dalam jangka panjang.

Aplikasi Investasi ETF Jangka Panjang

Kalau kamu mencari aplikasi investasi ETF untuk jangka panjang yang terpercaya di Indonesia, kamu bisa pilih Aplikasi Reku. Reku menyediakan akses ke berbagai ETF dan saham dengan modal kecil.

Kamu bisa berinvestasi di ETF dan saham Amerika mulai dari $1 menggunakan saldo USD, sehingga strategi beli rutin bisa dijalankan tanpa dana besar. Reku sudah terlisensi serta diawasi oleh Bappebti dan OJK. Di Reku, kamu bisa memantau pasar saham Amerika dan berinvestasi di saham perusahaan terkenal seperti Apple, Nike, dan Starbucks, serta memulai investasi crypto seperti BTC dalam aplikasi yang sama.

FAQ Seputar Cara Memilih ETF Jangka Panjang

Berikut beberapa pertanyaan yang sering muncul saat memilih ETF untuk jangka panjang. Jawabannya bisa kamu jadikan pegangan awal.

Berapa lama sebaiknya menyimpan ETF jangka panjang?

Tidak ada angka pasti, tetapi investasi jangka panjang umumnya berarti lima tahun atau lebih. Semakin panjang jangka waktunya, semakin besar ruang bagi portofolio untuk pulih dari penurunan sementara.

Apakah ETF jangka panjang bisa rugi?

Bisa. Nilai ETF mengikuti aset di dalamnya, sehingga bisa turun ketika pasar melemah, terutama dalam jangka pendek.

Berapa banyak ETF yang sebaiknya dimiliki?

Banyak investor cukup memiliki dua hingga empat ETF dengan isi yang saling melengkapi. Jumlah yang terlalu banyak justru bisa membuat portofolio sulit dipantau.

Apakah ETF obligasi perlu ada di portofolio jangka panjang?

Tergantung profil risikomu. ETF obligasi bisa membantu meredam fluktuasi portofolio, terutama jika kamu tidak nyaman dengan penurunan nilai yang besar.

Disclaimer: Artikel ini bersifat edukasi dan bukan ajakan untuk membeli atau menjual aset tertentu. Kinerja masa lalu tidak menjamin kinerja masa depan.

Nico R. K
PenulisNico R. KSeorang content writer berpengalaman 5+ tahun membuat artikel seputar crypto, saham, investasi, dan finansial di Reku.
Bagikan!
Artikel Terkait
    Cut Loss Saham Berapa Persen? Cara Menentukan Batas yang Masuk Akal
  1. Cut Loss Saham Berapa Persen? Cara Menentukan Batas yang Masuk Akal
  2. 30 October 2026
    1 menit membaca
    Saham
    Apa Itu Saham BlackRock? Mengenal BLK, Bisnis, dan Risikonya
  3. Apa Itu Saham BlackRock? Mengenal BLK, Bisnis, dan Risikonya
  4. 29 October 2026
    1 menit membaca
    Saham
Analisis
Analisa pasar yang mendalam
Blog
Pelajari lebih lanjut strategi investasi dan serba-serbi dunia finansial
FAQ
Cari tahu berbagai berita kripto dan saham terbaru
Market
Mulai jelajahi dan investasi aset Crypto dan Saham AS di Reku