Investasi
Market
Learning Hub
Keamanan
Biaya
Lainnya
Layanan Pengaduan Konsumen
  • PT Rekeningku Dotcom Indonesia (Reku)

    Email: [email protected]

  • Direktorat Jenderal Perlindungan Konsumen dan Tertib Niaga, Kementerian Perdagangan RI

    Telepon/WhatsApp: +62 853 1111 1010

Unduh Aplikasi Reku
google-icon

Reku Kampus

Crypto
Saham
Trading
Investasi
Finansial
Teori
Kamus
Mengenal Floating Loss Lewat Contoh dan Cara Mengatasinya
Finansial
Bagikan!

Mengenal Floating Loss Lewat Contoh dan Cara Mengatasinya

04 November 2026
7 menit membaca
Mengenal Floating Loss Lewat Contoh dan Cara Mengatasinya

Floating loss adalah kondisi yang hampir pasti pernah dialami setiap investor dan trader. Angka merah di portofolio sering memicu rasa cemas, padahal kerugian tersebut belum tentu menjadi kerugian nyata.

Memahami floating loss membantu kamu mengambil keputusan dengan kepala dingin, bukan karena panik. Artikel ini membahas pengertian, cara menghitung, perbedaannya dengan realized loss, risiko di pasar berjangka, hingga cara mengelolanya dengan disiplin.

Apa itu Floating Loss?

Istilah floating loss sering muncul di aplikasi trading saat harga aset bergerak berlawanan dengan posisimu. Kata floating sendiri menggambarkan nilai yang masih mengambang dan bisa berubah setiap saat.

Floating loss adalah kerugian yang belum direalisasikan pada posisi yang masih terbuka, atau sering disebut unrealized loss. Kerugian ini muncul ketika harga pasar suatu aset berada di bawah harga beli rata-rata untuk posisi beli, atau di atas harga jual untuk posisi jual. Selama posisi belum ditutup, nilai kerugiannya akan terus berubah mengikuti pergerakan harga. Istilah ini berlaku untuk berbagai instrumen, mulai dari saham, ETF, crypto, hingga kontrak berjangka. Karena itu, memahami floating loss penting bagi siapa pun yang mulai investasi crypto maupun saham.

Bagaimana Floating Loss Terjadi?

Floating loss terjadi karena harga aset di pasar selalu bergerak naik dan turun. Pergerakan ini dipengaruhi oleh permintaan, penawaran, berita, hingga sentimen investor.

Saat kamu membeli aset lalu harganya turun, nilai pasar posisimu menjadi lebih kecil dari modal awal. Selisih inilah yang tercatat sebagai floating loss di portofolio. Jika harga kembali naik melewati harga beli, floating loss bisa berubah menjadi floating profit tanpa kamu melakukan apa pun. Karena itu, floating loss lebih tepat dipandang sebagai sinyal untuk mengevaluasi posisi, bukan alasan untuk langsung panik.

Contoh Perhitungan Floating Loss

Cara menghitung floating loss sebenarnya cukup sederhana. Kamu hanya perlu membandingkan nilai pasar posisi saat ini dengan modal yang kamu keluarkan.

Rumus dasarnya adalah floating loss = (harga pasar saat ini − harga beli rata-rata) × jumlah unit. Hasil negatif menunjukkan floating loss, sedangkan hasil positif menunjukkan floating profit. Untuk mengetahui persentasenya, bagi hasil tersebut dengan total modal lalu kalikan 100%. Persentase ini lebih berguna untuk membandingkan kinerja beberapa aset dengan nilai modal yang berbeda.

  • Saham Apple (AAPL): misalnya kamu membeli 10 lembar di harga $200 per lembar sehingga total modalmu $2.000, lalu harganya turun ke $180 dan nilai posisimu menjadi $1.800. Floating loss yang tercatat adalah $200 atau 10%, dan pola yang sama berlaku untuk saham Amerika lain karena kerugian ini baru menjadi nyata jika kamu menjual di harga tersebut.
  • Posisi long BTC di crypto futures: misalnya kamu membuka posisi dengan margin $100 dan leverage 10x sehingga nilai posisimu setara $1.000, lalu harga turun 5% dan floating loss yang tercatat menjadi $50 atau 50% dari margin. Karena leverage membuat kerugian membesar jauh lebih cepat, kamu yang ingin trading crypto futures perlu memantau margin dan memasang batas kerugian sejak awal.

Perbedaan Floating Loss dan Realized Loss

Floating loss sering disamakan dengan realized loss, padahal keduanya berbeda. Perbedaan ini penting karena berpengaruh pada cara kamu menilai kinerja investasi.

  • Status posisi: floating loss terjadi saat posisi masih terbuka, sedangkan realized loss terjadi setelah posisi ditutup.
  • Sifat nilai: floating loss masih bisa berubah, sedangkan realized loss sudah final.
  • Dampak ke saldo: floating loss belum mengurangi saldo kas, sedangkan realized loss langsung mengurangi saldo.
  • Peluang pemulihan: floating loss masih bisa pulih jika harga berbalik, sedangkan realized loss tidak bisa pulih dari posisi yang sama.
  • Pencatatan: floating loss muncul sebagai unrealized PnL, sedangkan realized loss tercatat sebagai realized PnL.

 

AspekFloating LossRealized Loss
Status posisiMasih terbukaSudah ditutup
Sifat nilaiBerubah-ubahFinal
Dampak ke saldoBelum mengurangi kasLangsung mengurangi kas
Peluang pemulihanMasih adaTidak ada pada posisi yang sama
PencatatanUnrealized PnLRealized PnL

 

Penyebab Floating Loss yang Umum

Floating loss bisa dialami siapa saja, termasuk investor berpengalaman. Namun, ada beberapa penyebab yang membuat kerugian ini lebih sering terjadi.

  • Membeli aset saat harga sudah naik terlalu tinggi karena takut ketinggalan.
  • Tidak melakukan analisis sebelum membuka posisi.
  • Sentimen pasar yang memburuk akibat data ekonomi atau kebijakan suku bunga.
  • Kinerja fundamental perusahaan atau proyek yang melemah.
  • Ukuran posisi terlalu besar dibandingkan total modal.
  • Penggunaan leverage tinggi tanpa manajemen risiko.
  • Tidak memasang stop loss sehingga kerugian dibiarkan membesar tanpa batas yang jelas.

Mengapa Floating Loss Perlu Diwaspadai?

Floating loss memang belum menjadi kerugian nyata. Meski begitu, kondisi ini tetap membawa risiko yang perlu kamu pahami.

Risiko Margin Call dan Likuidasi

Risiko ini paling terasa pada produk yang memakai leverage. Semakin besar leverage, semakin kecil ruang toleransi terhadap pergerakan harga.

Ketika floating loss menggerus margin hingga batas tertentu, platform bisa meminta tambahan dana atau menutup posisimu secara otomatis. Pada tahap ini, floating loss langsung berubah menjadi realized loss, dan peluang pemulihan dari posisi tersebut hilang.

Risiko Keputusan Emosional

Floating loss juga berdampak pada psikologi investor. Angka merah yang terus membesar bisa membuat kamu sulit berpikir jernih.

Sebagian investor memilih menahan posisi terlalu lama karena enggan mengakui kesalahan, sementara sebagian lain menjual di titik terendah karena panik. Kedua reaksi ini sering membuat hasil akhir lebih buruk dibandingkan keputusan yang diambil berdasarkan rencana. Kondisi ini sering terlihat saat pasar saham Amerika bergejolak dan banyak investor menjual karena panik.

Cara Mengatasi Floating Loss

Floating loss tidak bisa dihindari sepenuhnya, tetapi bisa dikelola. Berikut langkah yang bisa kamu terapkan agar kerugian tetap terkendali.

  1. Evaluasi ulang alasan awal kamu membeli aset tersebut.
  2. Periksa apakah penurunan harga disebabkan oleh sentimen sesaat atau perubahan fundamental.
  3. Tentukan batas kerugian maksimal sebelum membuka posisi, misalnya 5% hingga 10% dari nilai posisi.
  4. Gunakan stop loss agar posisi tertutup otomatis saat batas tercapai.
  5. Pertimbangkan averaging down hanya jika fundamental aset masih kuat dan dana tersedia.
  6. Lakukan diversifikasi agar satu aset tidak terlalu memengaruhi total portofolio.

Floating Loss pada Investasi Jangka Panjang dan Trading Jangka Pendek

Cara menyikapi floating loss sangat bergantung pada gaya investasimu. Investor jangka panjang dan trader jangka pendek memiliki toleransi yang berbeda terhadap penurunan harga.

Bagi investor jangka panjang, floating loss sementara adalah hal yang wajar karena harga aset berkualitas bisa berfluktuasi selama bertahun-tahun sebelum mencerminkan nilai fundamentalnya. Fokus utamanya adalah kesehatan bisnis, pertumbuhan pendapatan, dan prospek industri. Sebaliknya, trader jangka pendek biasanya memiliki batas kerugian yang ketat karena strategi mereka bergantung pada momentum harga, sehingga floating loss yang melewati batas rencana perlu segera ditindaklanjuti.

Kapan Sebaiknya Cut Loss atau Hold?

Pilihan antara cut loss dan hold adalah keputusan tersulit saat menghadapi floating loss. Tidak ada jawaban tunggal karena semuanya bergantung pada tujuan dan kondisi aset.

Cut loss lebih masuk akal jika alasan investasi sudah tidak berlaku, misalnya kinerja perusahaan memburuk atau batas risiko yang kamu tetapkan sudah terlewati. Sebaliknya, hold bisa dipertimbangkan jika fundamental aset masih sehat, penurunan harga lebih disebabkan sentimen jangka pendek, dan dana yang dipakai memang dialokasikan untuk jangka panjang.

Kesalahan yang Sering Terjadi Saat Mengalami Floating Loss

Banyak investor justru memperbesar kerugian karena reaksi yang keliru. Mengenali kesalahan ini membantu kamu menghindarinya sejak awal.

  • Terus menambah posisi tanpa analisis hanya untuk menurunkan harga rata-rata.
  • Memindahkan batas stop loss lebih jauh setiap kali harga mendekatinya.
  • Terlalu sering memantau harga hingga memicu keputusan impulsif.
  • Menggunakan dana darurat untuk menambah margin.
  • Mengikuti rumor di media sosial tanpa verifikasi.

Aplikasi untuk Investasi dengan Risiko Lebih Terkendali

Aplikasi Reku bisa jadi pilihan terbaik untuk berinvestasi di saham Amerika dan crypto sambil mengelola floating loss dengan disiplin. Reku menyediakan tipe order seperti Limit Order dan Stop Loss, serta fitur Analisis Portofolio untuk melacak harga rata-rata dan untung atau rugi setiap aset.

Kamu bisa memantau pasar saham Amerika dan membeli saham perusahaan terkenal seperti Apple, Microsoft, dan Nvidia mulai dari $1. Reku juga mendukung investasi crypto seperti Bitcoin dan Ethereum, serta sudah terlisensi dan diawasi oleh Bappebti dan OJK.

FAQ Seputar Floating Loss

Berikut beberapa pertanyaan yang sering muncul tentang floating loss. Jawaban singkat ini bisa membantu kamu memahami istilah tersebut dengan cepat.

Apakah floating loss berarti uang saya sudah hilang?

Belum. Floating loss baru menjadi kerugian nyata jika kamu menutup posisi di harga yang lebih rendah dari harga beli.

Apa perbedaan floating loss dan floating profit?

Floating loss adalah kerugian yang belum direalisasikan, sedangkan floating profit adalah keuntungan yang belum direalisasikan karena harga pasar berada di atas harga beli. Keduanya sama-sama bisa berubah selama posisi masih terbuka.

Apakah floating loss bisa menyebabkan likuidasi?

Pada produk dengan leverage seperti futures, floating loss yang terlalu besar bisa menggerus margin hingga posisi dilikuidasi secara otomatis. Risiko ini jauh lebih kecil pada pembelian aset spot tanpa leverage.

Bagaimana cara mengurangi risiko floating loss?

Kamu bisa mengurangi risikonya dengan analisis sebelum membeli, membatasi ukuran posisi, memasang stop loss, dan melakukan diversifikasi. Disiplin menjalankan rencana juga penting agar keputusan tidak dipengaruhi emosi.

Disclaimer: Artikel ini bersifat edukasi dan bukan ajakan untuk membeli atau menjual aset tertentu. Angka dalam contoh hanya ilustrasi.

Nico R. K
PenulisNico R. KSeorang content writer berpengalaman 5+ tahun membuat artikel seputar crypto, saham, investasi, dan finansial di Reku.
Bagikan!
Artikel Terkait
    Saham Anthropic: Jadwal IPO, Kode Saham ANT, dan Valuasinya
  1. Saham Anthropic: Jadwal IPO, Kode Saham ANT, dan Valuasinya
  2. 04 November 2026
    1 menit membaca
    Saham
    Harga Kakao Hari Ini 30/10: Mandek di USD5.456, Pekan Ini Masih Minus 2,4%
  3. Harga Kakao Hari Ini 30/10: Mandek di USD5.456, Pekan Ini Masih Minus 2,4%
  4. 03 November 2026
    1 menit membaca
    Finansial
Analisis
Analisa pasar yang mendalam
Blog
Pelajari lebih lanjut strategi investasi dan serba-serbi dunia finansial
FAQ
Cari tahu berbagai berita kripto dan saham terbaru
Market
Mulai jelajahi dan investasi aset Crypto dan Saham AS di Reku