Kenali Arti FOMO beserta Ciri, Penyebab, Contoh dan Cara Menghindarinya
Pernah merasa khawatir tertinggal karena melihat orang lain mendapatkan sesuatu yang belum kamu miliki? Misalnya, ketika teman-teman mulai membeli aset investasi yang sedang naik, mengikuti tren tertentu, atau mencoba pengalaman baru, kamu ikut merasa harus melakukan hal yang sama. Perasaan seperti ini dikenal dengan istilah FOMO.
FOMO adalah kondisi psikologis yang dapat muncul dalam berbagai situasi, mulai dari kehidupan sehari-hari hingga keputusan finansial seperti investasi dan trading. Jika tidak disadari, FOMO dapat membuat kamu mengambil keputusan secara terburu-buru hanya karena takut kehilangan kesempatan. Lantas, apa sebenarnya FOMO, apa penyebabnya, dan bagaimana cara mengenali ciri-cirinya?
Apa Itu FOMO?
FOMO adalah singkatan dari Fear of Missing Out, yaitu rasa takut atau cemas karena merasa akan melewatkan pengalaman, informasi, atau kesempatan yang sedang dinikmati orang lain. Istilah ini sering dikaitkan dengan penggunaan media sosial karena seseorang dapat terus melihat aktivitas, pencapaian, maupun keputusan orang lain secara real time.
Dalam kehidupan sehari-hari, FOMO dapat membuat kamu merasa harus ikut melakukan sesuatu agar tidak tertinggal dari lingkungan sekitar. Dalam konteks finansial, FOMO bisa muncul ketika kamu melihat harga aset meningkat dan banyak orang membicarakan potensi keuntungannya. Akibatnya, kamu membeli aset bukan karena sudah melakukan analisis, tetapi karena takut kehilangan peluang.
Apa Lawan Kata FOMO?
Jika FOMO adalah rasa takut tertinggal, lawan konsep yang sering digunakan adalah JOMO atau Joy of Missing Out. JOMO menggambarkan kondisi ketika seseorang merasa nyaman untuk tidak mengikuti apa yang sedang dilakukan orang lain.
Dalam investasi, sikap yang mendekati JOMO berarti kamu tidak merasa harus membeli aset hanya karena sedang populer. Kamu dapat melewatkan suatu peluang jika peluang tersebut tidak sesuai dengan strategi, tujuan, atau tingkat risiko yang kamu miliki.
JOMO bukan berarti mengabaikan peluang. Sebaliknya, konsep ini menekankan kemampuan untuk menentukan pilihan berdasarkan kebutuhan dan pertimbangan sendiri, bukan semata-mata karena tekanan sosial atau tren.
Penyebab FOMO
FOMO dapat dipicu oleh berbagai faktor, baik dari lingkungan maupun dari dalam diri sendiri. Beberapa penyebab yang umum antara lain:
- Terlalu sering membandingkan diri
Kebiasaan membandingkan pencapaian diri dengan orang lain dapat membuat kamu merasa tertinggal. Ketika melihat orang lain mendapatkan sesuatu lebih dulu, muncul dorongan untuk mengejar agar tidak merasa berada di posisi yang kurang menguntungkan. - Paparan media sosial
Media sosial memungkinkan kamu melihat berbagai aktivitas orang lain dalam jumlah besar. Semakin sering terpapar konten mengenai pencapaian, gaya hidup, atau keuntungan orang lain, semakin besar kemungkinan muncul perasaan bahwa kamu sedang melewatkan sesuatu. - Takut kehilangan kesempatan
FOMO juga berkaitan dengan kekhawatiran bahwa sebuah kesempatan hanya datang sekali. Dalam investasi, misalnya, kamu mungkin berpikir bahwa jika tidak membeli aset sekarang, harga akan terus naik dan kesempatan mendapatkan keuntungan akan hilang. - Keinginan untuk diterima lingkungan
Manusia pada dasarnya memiliki kebutuhan untuk merasa menjadi bagian dari kelompok. Karena itu, ketika orang-orang di sekitar melakukan hal yang sama, kamu dapat terdorong untuk ikut agar tidak merasa berbeda atau tertinggal. - Kurangnya perencanaan
Tidak memiliki tujuan atau strategi yang jelas dapat membuat keputusan lebih mudah dipengaruhi tren. Dalam investasi dan trading, rencana yang tidak jelas juga dapat membuat kamu lebih mudah berpindah keputusan berdasarkan pergerakan pasar.
Ciri-Ciri FOMO
FOMO terkadang sulit dikenali karena dapat terasa seperti antusiasme atau keinginan mencoba sesuatu yang baru. Namun, ada beberapa ciri yang dapat menjadi tanda bahwa keputusanmu mulai dipengaruhi FOMO.
- Takut ketinggalan tren
Kamu merasa perlu mengikuti sesuatu hanya karena banyak orang sedang melakukannya. Perasaan tersebut tetap muncul meskipun sebenarnya kamu tidak terlalu membutuhkan atau tertarik pada hal tersebut. - Sulit merasa puas dengan keputusan sendiri
Setelah memilih untuk tidak mengikuti suatu tren, kamu terus memikirkan keputusan orang lain dan merasa menyesal. Kamu kemudian mulai mempertanyakan apakah seharusnya ikut sejak awal. - Mengambil keputusan secara terburu-buru
FOMO dapat membuat kamu merasa harus segera mengambil keputusan. Dalam trading, misalnya, kamu masuk posisi tanpa menunggu strategi yang sudah ditentukan karena takut harga bergerak semakin jauh. - Terlalu sering memantau media sosial atau pasar
Kamu mungkin terus mengecek media sosial untuk mengetahui apa yang sedang dilakukan orang lain atau memantau pergerakan harga karena khawatir melewatkan momentum. - Mengabaikan pertimbangan risiko
Ketika FOMO semakin kuat, potensi keuntungan terlihat lebih menarik daripada risikonya. Akibatnya, kamu dapat mengabaikan batas kerugian, kondisi keuangan, atau alasan utama mengapa suatu keputusan seharusnya dilakukan.
Contoh FOMO
FOMO dapat muncul dalam banyak situasi. Berikut beberapa contoh yang mungkin terjadi dalam kehidupan sehari-hari maupun ketika mengambil keputusan investasi.
1. FOMO dalam Kehidupan Sehari-hari
Salah satu contoh FOMO yang paling mudah ditemukan adalah ketika kamu melihat teman atau orang lain melakukan sesuatu yang sedang populer. Misalnya, sebuah tempat wisata sedang ramai di media sosial. Banyak orang mengunggah foto dari tempat tersebut sehingga kamu merasa harus ikut datang meskipun sebelumnya tidak memiliki rencana untuk pergi.
Hal serupa dapat terjadi ketika ada tren produk, acara, atau aktivitas tertentu. Keputusan untuk ikut bukan selalu didasarkan pada kebutuhan atau minat pribadi, melainkan karena khawatir merasa tertinggal dari orang lain.
2. FOMO karena Media Sosial
Istilah FOMO di Tiktok, Instagram, atau media sosial lain juga semakin kuat karena kamu terus mendapatkan informasi mengenai aktivitas orang lain. Melihat teman sedang berlibur, menghadiri acara, membeli barang baru, atau mencapai pencapaian tertentu dapat menimbulkan perasaan bahwa kehidupanmu kurang dibandingkan dengan mereka.
Padahal, apa yang terlihat di media sosial biasanya hanya sebagian dari kehidupan seseorang. Karena itu, membandingkan kondisi diri sendiri dengan apa yang ditampilkan orang lain dapat memberikan gambaran yang tidak utuh.
3. FOMO dalam Investasi
Dalam investasi, FOMO biasanya muncul ketika sebuah aset mengalami kenaikan harga dan mulai ramai dibicarakan. Kamu kemudian melihat banyak investor membagikan keuntungan dan merasa harus segera membeli agar tidak kehilangan kesempatan mendapatkan profit.
Masalahnya, keputusan tersebut dapat dilakukan tanpa mempertimbangkan kondisi fundamental aset, valuasi, tujuan investasi, maupun risiko penurunan harga. Jika membeli setelah harga naik terlalu tinggi, kamu justru dapat menghadapi risiko ketika momentum pasar berbalik.
4. FOMO dalam Trading
FOMO dalam trading dapat terjadi ketika trader melihat harga aset bergerak naik dengan cepat. Karena takut harga terus meningkat, trader masuk ke posisi tanpa menunggu sinyal atau setup trading yang sudah direncanakan.
Contohnya, kamu sudah menetapkan strategi untuk menunggu harga mencapai level tertentu. Namun, ketika melihat harga tiba-tiba naik, kamu membatalkan rencana dan membeli karena takut ketinggalan momentum. Jika harga kemudian berbalik arah, keputusan tersebut dapat menyebabkan kerugian.
5. FOMO pada Crypto dan Saham Amerika
Pasar crypto dan saham Amerika juga tidak terlepas dari FOMO. Misalnya, sebuah aset crypto mengalami kenaikan tajam setelah menjadi topik pembicaraan di media sosial. Kamu kemudian membeli karena melihat banyak orang membahas potensi kenaikan berikutnya.
Hal serupa dapat terjadi pada saham Amerika. Ketika saham perusahaan tertentu mengalami kenaikan signifikan setelah muncul berita atau sentimen positif, kamu mungkin merasa perlu segera masuk tanpa melakukan riset lebih lanjut. Padahal, kenaikan harga di masa lalu tidak otomatis menjamin kenaikan berikutnya.
Dampak Negatif FOMO pada Trader
Terjebak dalam FOMO adalah salah satu penyebab utama trader mengalami kerugian. Berikut beberapa dampak negatifnya fomo adalah sebagai berikut:
- Membeli di Harga Puncak
Karena terburu-buru ikut membeli saat harga sedang naik, banyak trader akhirnya masuk di puncak harga sebelum aset mengalami koreksi besar. - Kehilangan Kontrol Emosi
Keputusan trading yang emosional bisa membuat kamu sulit berpikir rasional dan mengabaikan strategi investasi yang sudah disusun. - Menguras Modal dengan Cepat
Overtrading akibat FOMO dapat menyebabkan modal cepat habis, terutama jika dilakukan tanpa perhitungan risiko yang matang. - Kurangnya Konsistensi dalam Trading
Alih-alih mengikuti strategi yang telah direncanakan, trader yang mengalami FOMO sering kali berpindah-pindah strategi tanpa arah yang jelas.
Cara Menghindari FOMO dalam Trading Crypto
Supaya strategi tradingmu bisa lebih tepat, berikut beberapa cara menghindari FOMO saat trading crypto:
- Tetap Berpegang pada Strategi
Miliki rencana trading yang jelas dan patuhi aturan yang sudah ditetapkan. Jangan tergoda untuk keluar dari strategi hanya karena melihat pergerakan harga sesaat. - Gunakan Analisis Data, Bukan Emosi
Sebelum mengambil keputusan beli atau jual, lakukan analisis teknikal dan fundamental untuk memahami kondisi pasar. - Batasi Konsumsi Informasi dari Sosial Media
Berita viral atau opini dari influencer sering kali memicu hype berlebihan. Pastikan kamu selalu memverifikasi informasi sebelum bertindak. - Tetapkan Batas Risiko
Gunakan stop-loss dan tentukan seberapa besar risiko yang siap kamu tanggung agar tidak mengalami kerugian besar akibat keputusan emosional. - Belajar dari Kesalahan
Jika pernah mengalami FOMO dan mengalami kerugian, gunakan pengalaman tersebut untuk menjadi trader yang lebih bijak di masa depan.
Dalam dunia trading, FOMO adalah tantangan psikologis yang sering kali membuat trader bertindak impulsif tanpa analisis yang matang. Jika tidak dikelola dengan baik, FOMO adalah faktor yang bisa menyebabkan keputusan terburu-buru, mengacaukan strategi investasi, dan bahkan berujung pada kerugian besar.
Mengendalikan FOMO dalam trading aset kripto memang tidak mudah, tetapi dengan strategi yang tepat dan disiplin, kamu bisa mengambil keputusan yang lebih rasional. Salah satu cara terbaik untuk tetap mengikuti tren pasar tanpa terjebak hype adalah dengan mengandalkan sumber informasi yang terpercaya.
Di Reku, kamu bisa memanfaatkan Reku Analysis, fitur yang menyediakan update terkini serta analisis mendalam dari para ahli mengenai pergerakan harga aset kripto dan saham. Dengan data yang akurat dan analisis yang komprehensif, kamu bisa membuat keputusan trading tanpa dipengaruhi emosi sesaat.
Selain itu, jika kamu ingin melakukan diversifikasi aset dengan lebih praktis, Reku Packs bisa menjadi pilihan. Fitur ini memungkinkan kamu untuk berinvestasi dalam kumpulan aset kripto yang telah dikurasi berdasarkan kategori tertentu, sehingga kamu tidak perlu repot memilih satu per satu.
Jangan biarkan keputusan tradingmu dikendalikan oleh emosi! FOMO adalah jebakan yang bisa dihindari dengan strategi yang matang dan informasi yang tepat. Gunakan Reku Analysis untuk mendapatkan wawasan terbaik dan manfaatkan Reku Packs untuk investasi yang lebih efektif. Kunjungi Reku sekarang dan mulai trading dengan lebih cerdas!
Aplikasi Crypto Indonesia untuk Staking dan Trading
Gabung bersama jutaan pengguna lain di Reku, aplikasi crypto Indonesia yang menawarkan fitur staking crypto dan trading yang aman. Download aplikasi Reku sekarang dan mulai berinvestasi!


