Peretasan crypto bukan cerita baru, tapi skalanya terus membesar dari tahun ke tahun. Dalam satu dekade terakhir, sejumlah exchange besar kehilangan aset bernilai ratusan juta hingga miliaran dolar AS hanya dalam hitungan menit.
Kabar baiknya, setiap kasus meninggalkan pelajaran yang bisa kamu pakai untuk melindungi asetmu sendiri. Di sini kamu akan melihat daftar kasus pencurian crypto terbesar yang menimpa exchange, pola yang berulang di baliknya, serta langkah praktis untuk memilih platform dan mengamankan akunmu.
Apa itu Peretasan Crypto?
Peretasan crypto adalah tindakan pihak tidak berwenang yang membobol sistem sebuah platform atau dompet untuk memindahkan aset crypto ke alamat yang mereka kendalikan. Dalam konteks exchange, sasarannya biasanya dompet milik bursa yang menampung dana banyak pengguna sekaligus.
Perlu dibedakan, peretasan di exchange umumnya tidak berarti blockchain-nya yang jebol. Celahnya hampir selalu ada di sisi operasional, seperti dompet yang terhubung ke internet, perangkat karyawan yang terinfeksi malware, sistem penandatanganan transaksi, atau penyedia layanan pihak ketiga. Risiko ini perlu dipahami siapa pun yang menggunakan aplikasi crypto untuk menyimpan asetnya.
Daftar Kasus Peretasan Crypto Terbesar di Exchange
Berikut kasus peretasan exchange yang paling banyak disorot, diurutkan dari nilai kerugian terbesar menurut laporan resmi dan media terpercaya. Nilai dolar AS dihitung berdasarkan harga aset saat kejadian.
Binance (Oktober 2026): Sekitar $6,3 Miliar
Kasus terbaru ini sekaligus menjadi peretasan crypto terbesar yang pernah tercatat. Serangannya menyasar infrastruktur penandatanganan hot wallet Binance di banyak jaringan blockchain.
Pada 29 Oktober 2026, Binance mengumumkan insiden keamanan dengan perkiraan dampak sekitar $6,3 miliar, sementara Chainalysis mencatat transfer tidak sah sekitar $6,4 miliar. Menurut co-CEO Binance Richard Teng, penyerang membangun akses selama berbulan-bulan lewat alat developer palsu, wawancara kerja palsu berisi malware dan alat AI internal. FBI mengaitkan serangan ini dengan TraderTraitor, kelompok yang terhubung ke Korea Utara. Binance menyatakan menanggung seluruh kerugian pengguna lewat dana SAFU dan dana perusahaan, sementara sekitar $3 miliar aset berhasil dibekukan bersama mitra industri.
Bybit (Februari 2025): Sekitar $1,5 Miliar
Sebelum kasus Binance, Bybit memegang rekor peretasan terbesar dalam sejarah crypto. Uniknya, dana yang dicuri justru berasal dari cold wallet yang sedang dipindahkan ke hot wallet.
Pada 21 Februari 2025, penyerang memanipulasi transfer rutin dari dompet multisig Ethereum milik Bybit dan menguras lebih dari 400.000 ETH dan stETH senilai sekitar $1,5 miliar. Para penandatangan melihat tampilan transaksi yang tampak normal, padahal data yang ditandatangani sudah diganti lewat perangkat developer Safe{Wallet} yang disusupi. FBI menyebut Korea Utara sebagai pelakunya, dan Bybit tetap melayani penarikan pengguna.
Coincheck (Januari 2018): Sekitar $530 Juta
Coincheck adalah exchange asal Jepang yang menjadi korban salah satu pencurian crypto terbesar di era awal. Kasus ini menjadi contoh klasik risiko menyimpan dana besar di hot wallet.
Pada 26 Januari 2018, sekitar 523 juta token NEM senilai sekitar ¥58 miliar atau $530 juta hilang dari hot wallet Coincheck. Seluruh aset yang hilang adalah milik pengguna, dan Coincheck kemudian menjanjikan kompensasi.
Mt. Gox (Februari 2014): Sekitar 850.000 BTC
Exchange asal Jepang ini pernah menangani sebagian besar transaksi Bitcoin dunia sebelum akhirnya runtuh. Kasusnya masih menjadi pengingat paling terkenal tentang bahaya exchange yang tidak transparan.
Pada awal 2014, Mt. Gox menghentikan penarikan dan mengajukan pailit setelah menyatakan kehilangan sekitar 850.000 BTC, yang saat itu bernilai sekitar $450 juta. Sekitar 200.000 BTC kemudian ditemukan kembali di dompet lama. Proses pengembalian dana ke kreditur baru dimulai pada 2024 dan tenggatnya terus diundur, sehingga banyak korban menunggu lebih dari satu dekade.
Bitget (September 2026): Sekitar $387,5 Juta
Bitget diserang sekitar sebulan sebelum kasus Binance. Penyerang masuk lewat celah di produk keamanan pihak ketiga, bukan lewat kode bursa itu sendiri.
Pada 24 September 2026, Bitget mengumumkan peretasan pada hot wallet dan warm wallet di 11 jaringan blockchain, dengan kerugian yang direvisi menjadi sekitar $387,5 juta. Bitget menyatakan private key dan cold wallet tidak terdampak, lalu menutup kerugian lewat Bitget Protection Fund.
DMM Bitcoin (Mei 2024): Sekitar $308 Juta
DMM Bitcoin adalah exchange Jepang yang kehilangan ribuan Bitcoin dalam satu insiden. Kasus ini menunjukkan bahwa rekayasa sosial terhadap satu karyawan vendor bisa berujung kerugian besar.
Menurut FBI dan Kepolisian Nasional Jepang, pelaku menyamar sebagai perekrut di LinkedIn dan menyusupkan kode berbahaya ke karyawan Ginco, penyedia perangkat lunak dompet DMM. Akses itu lalu dipakai untuk memanipulasi permintaan transaksi yang sah pada akhir Mei 2024, sehingga 4.502,9 BTC senilai sekitar ¥48,2 miliar atau $308 juta hilang. DMM menyatakan mengganti Bitcoin pengguna dengan dukungan grup perusahaannya.
WazirX (Juli 2024): Sekitar $230 Juta
WazirX adalah salah satu exchange terbesar di India saat insiden terjadi. Kerugiannya sangat besar dibanding total cadangan yang mereka miliki.
Pada 18 Juli 2024, penyerang membuat para penandatangan dompet multisig WazirX menyetujui transaksi yang tampilannya berbeda dengan isi sebenarnya, lalu menguras lebih dari 200 jenis token senilai sekitar $230 juta. Angka ini hampir setengah dari aset sekitar $500 juta yang dilaporkan WazirX dalam Proof of Reserve bulan sebelumnya. Penarikan pun dihentikan dan pengguna menunggu proses restrukturisasi yang panjang.
Indodax (September 2024): Sekitar $22 Juta
Kasus ini paling dekat dengan pengguna di Indonesia karena menimpa exchange lokal. Nilainya memang lebih kecil, tetapi cukup membuat platform berhenti beroperasi beberapa hari.
Pada 11 September 2024, firma keamanan SlowMist dan CertiK melaporkan sekitar $22 juta aset keluar dari dompet Indodax, sementara Cyvers merevisi estimasinya menjadi sekitar $20,58 juta. Indodax menghentikan layanan untuk pemeliharaan dan menyatakan kerugian berasal dari treasury perusahaan, bukan saldo member. Perdagangan dibuka kembali pada 14 September 2024. Kasus ini menunjukkan pentingnya memilih platform terlisensi, termasuk saat trading crypto futures.
Pola yang Berulang dari Kasus Pencurian Crypto
Jika dilihat bersama, kasus-kasus di atas punya pola yang mirip meski terjadi di negara dan tahun berbeda. Memahami pola ini membantu kamu menilai risiko sebuah platform dengan lebih jernih.
- Hot wallet jadi sasaran utama: dompet online paling sering dibobol karena dipakai melayani penarikan.
- Manusia adalah titik lemah: banyak serangan dimulai dari karyawan yang tertipu wawancara kerja palsu, malware, atau rekayasa sosial.
- Proses tanda tangan dimanipulasi: pada Bybit dan WazirX, penandatangan menyetujui transaksi yang tampilannya berbeda dengan isinya.
- Pihak ketiga ikut berisiko: celah di vendor dompet atau produk keamanan bisa membuka akses ke sistem bursa.
- Respons menentukan nasib pengguna: exchange dengan dana cadangan bisa menanggung kerugian, sementara yang tidak siap bisa kolaps.
| Kasus | Tahun | Perkiraan Kerugian | Titik Serangan |
| Binance | 2026 | ~$6,3 miliar | Sistem penandatanganan hot wallet |
| Bybit | 2025 | ~$1,5 miliar | Transfer dari cold wallet multisig |
| Coincheck | 2018 | ~$530 juta | Hot wallet |
| Mt. Gox | 2014 | ~850.000 BTC | Pengelolaan dompet internal |
| Bitget | 2026 | ~$387,5 juta | Hot dan warm wallet |
| DMM Bitcoin | 2024 | ~$308 juta | Vendor perangkat lunak dompet |
| WazirX | 2024 | ~$230 juta | Dompet multisig |
| Indodax | 2024 | ~$22 juta | Dompet platform |
Pelajaran Penting dari Peretasan Crypto untuk Kamu
Serangan di sisi exchange memang berada di luar kendalimu, tetapi pilihan platform dan kebiasaan keamananmu sepenuhnya ada di tanganmu. Tiga hal berikut bisa jadi pegangan dasar.
Cek Proof of Reserve Exchange
Proof of Reserve membantu kamu melihat apakah aset yang dipegang exchange cukup untuk menutup saldo seluruh pengguna. Laporan ini tidak mencegah peretasan, tetapi memberi gambaran kesehatan cadangan sebuah platform.
Kasus WazirX menunjukkan pentingnya angka cadangan, karena kerugiannya hampir setengah dari aset yang dilaporkan. Biasakan mengecek apakah platform pilihanmu rutin memperbaruinya.
Aktifkan 2FA dan Waspadai Phishing
Autentikasi dua faktor atau 2FA menambah lapisan pengaman di luar kata sandi. Dengan 2FA, penyerang yang mengetahui kata sandimu tetap membutuhkan kode tambahan dari perangkatmu.
Gunakan aplikasi autentikator dibanding SMS jika tersedia, dan jangan pernah membagikan kode OTP kepada siapa pun. Setelah kasus besar, waspadai juga tawaran klaim kompensasi palsu.
Pahami Cold Storage dan Hot Wallet
Cold storage adalah penyimpanan aset crypto secara offline, sedangkan hot wallet selalu terhubung ke internet. Exchange yang sehat biasanya menyimpan sebagian besar aset pengguna di cold storage dan hanya menaruh sebagian kecil di hot wallet.
Kasus Coincheck, Bitget, dan Binance menunjukkan bahwa hot wallet adalah sasaran favorit peretas, sementara kasus Bybit membuktikan cold wallet pun bisa terancam saat proses pemindahannya dimanipulasi. Untuk aset jangka panjang dalam jumlah besar, kamu juga bisa mempertimbangkan dompet pribadi offline, asalkan seed phrase-nya disimpan dengan aman.
Cara Memilih Exchange Crypto Paling Aman di Indonesia
Tidak ada exchange yang kebal dari serangan, jadi yang perlu kamu cari adalah platform dengan perlindungan berlapis dan pengawasan jelas. Di Indonesia, perdagangan aset crypto diawasi OJK sejak Januari 2025.
Saat mencari exchange crypto paling aman di Indonesia, pastikan platform terdaftar dan diawasi regulator, transparan soal cadangan aset, serta punya fitur keamanan akun yang lengkap.
Aplikasi Trading Crypto Aman di Indonesia
Ya, aplikasi Reku bisa jadi pilihan terbaik untuk trading crypto karena beroperasi di bawah pengawasan regulator Indonesia. Kamu juga bisa mengelola crypto dan saham AS dalam satu aplikasi.
Reku sudah terlisensi dan diawasi oleh Bappebti dan OJK, serta didukung layanan pelanggan 24/7 oleh manusia. Lewat aplikasi crypto Reku, kamu bisa membeli aset populer seperti Bitcoin dan Ethereum, atau mencoba crypto futures untuk strategi yang lebih aktif. Kamu juga bisa menjelajahi pasar saham Amerika dan memulai investasi saham Amerika seperti Apple dan Nvidia mulai dari $1, dengan Extended Trading Hours hingga 16 jam sehari, atau memilih Packs, paket aset yang dikurasi tim riset Reku.
FAQ Seputar Peretasan Crypto
Berikut beberapa pertanyaan yang sering muncul tentang peretasan crypto di exchange. Jawaban singkat ini membantu kamu memahaminya dengan cepat.
Apa kasus peretasan crypto terbesar sepanjang sejarah?
Kasus terbesar sejauh ini adalah peretasan Binance pada 29 Oktober 2026 dengan nilai sekitar $6,3 miliar. Sebelumnya, rekor dipegang Bybit dengan sekitar $1,5 miliar pada Februari 2025.
Apakah peretasan exchange berarti Bitcoin tidak aman?
Tidak, karena peretasan exchange umumnya menyasar sistem dan dompet milik bursa, bukan protokol blockchain-nya. Risiko ada pada cara platform mengelola akses dan kunci privat.
Apakah dana pengguna selalu hilang saat exchange diretas?
Tidak selalu. Beberapa exchange menanggung kerugian lewat dana cadangan, tetapi ada juga yang kolaps sehingga pengguna menunggu bertahun-tahun.
Bagaimana cara melindungi aset crypto dari peretasan?
Pilih platform yang diawasi regulator dan transparan soal cadangan, aktifkan 2FA, serta waspadai phishing. Untuk aset jangka panjang, pahami penggunaan cold storage.
Disclaimer: Artikel ini hanya untuk tujuan edukasi dan bukan merupakan saran investasi. Selalu lakukan riset mandiri dan pertimbangkan profil risikomu sebelum berinvestasi.

