MarketTrade
Products
Wallet
Learning Hub
Unduh Aplikasi Reku
google-icon

Reku Kampus

Blog
Teori
Tutorial
Kamus Kripto
Short Selling: Menguntungkan Tapi Berbahaya? Ketahui Risikonya!
Teori
Bagikan!

Short Selling: Menguntungkan Tapi Berbahaya? Ketahui Risikonya!

28 June 2024
5 menit membaca
Short Selling: Menguntungkan Tapi Berbahaya? Ketahui Risikonya!

Pernah mendengar istilah short selling? Akhir-akhir ini, short selling menjadi topik hangat di kalangan investor dan trader, baik di Indonesia maupun di luar negeri. Salah satu contohnya adalah drama epik yang melibatkan saham GameStop (GME) di Bursa Amerika Serikat, di mana investor ritel melawan investor besar dalam pertempuran finansial yang sengit. Short selling adalah transaksi yang legal dan diatur oleh berbagai peraturan. Namun, ada situasi tertentu di mana otoritas bursa melarangnya, terutama saat pasar sedang bergejolak, seperti yang terjadi selama pandemi COVID-19 sejak awal 2020. Artikel ini akan membahas cara kerja short selling, potensi keuntungannya, serta risiko yang mengintai. Siap untuk mengeksplorasi dunia short selling? Mari kita mulai!

Apa Itu Short Selling?

Bayangkan kamu bisa menghasilkan uang dari saham yang harganya turun. Kedengarannya menarik, bukan? Nah, itulah konsep dasar dari short selling. Short selling adalah teknik perdagangan saham dimana investor menjual saham yang sebenarnya belum mereka miliki. Ini terjadi dengan cara meminjam saham dari pihak lain, menjualnya di pasar dengan harapan bahwa harga saham tersebut akan turun. Ketika harga saham turun, investor kemudian membeli kembali saham tersebut dengan harga lebih rendah untuk mengembalikannya kepada pemilik asli, sehingga menghasilkan keuntungan dari selisih harga jual dan beli.

Teknik ini sering kali dilakukan oleh investor berpengalaman karena melibatkan risiko yang cukup tinggi. Short selling membutuhkan perkiraan yang tepat mengenai pergerakan harga saham, dan jika harga saham justru naik, investor bisa menghadapi kerugian yang besar. Meskipun berisiko, short selling juga menawarkan peluang keuntungan yang menarik, terutama di pasar yang sedang menurun.

Cara Kerja Short selling

Cara kerja short selling dimulai dengan investor meminjam saham dari pialang atau broker. Saham yang dipinjam ini kemudian dijual di pasar dengan harga yang lebih tinggi. Kunci utama dari strategi ini adalah kemampuan investor untuk memprediksi penurunan harga saham. Setelah harga saham turun, investor membeli kembali saham tersebut dengan harga yang lebih rendah dan mengembalikannya kepada pialang, meraih keuntungan dari selisih harga jual dan beli.

Namun, tidak semua saham bisa ditransaksikan melalui teknik short selling. Bursa Efek Indonesia (BEI) menetapkan saham-saham mana saja yang bisa ditransaksikan dengan metode ini. Selain itu, investor juga perlu memenuhi beberapa regulasi, seperti memiliki rekening efek reguler dan khusus untuk short selling, serta menyetor jaminan awal dengan jumlah minimal tertentu. Dengan memahami mekanisme ini, investor bisa lebih bijak dalam memanfaatkan peluang short selling di pasar saham.

Keuntungan Short Selling

Salah satu keuntungan utama short selling adalah potensi untuk meraih keuntungan besar dengan modal yang relatif kecil. Dengan meminjam saham dan menjualnya di harga tinggi, investor bisa mendapatkan keuntungan signifikan ketika harga saham tersebut turun. Selain itu, short selling memungkinkan investor untuk melakukan leveraged investment, yaitu teknik investasi dengan memanfaatkan dana pinjaman untuk meningkatkan potensi keuntungan.

Short selling juga bisa digunakan sebagai strategi hedging. Dengan cara ini, investor dapat melindungi portofolio mereka dari kerugian yang mungkin terjadi akibat penurunan harga saham. Meskipun penuh risiko, jika dilakukan dengan strategi yang tepat, short selling bisa menjadi alat yang efektif dalam mengelola portofolio investasi.

Risiko Short Selling

Meskipun short selling dapat memberikan keuntungan besar, teknik ini juga datang dengan risiko yang signifikan. Berikut adalah beberapa risiko yang perlu kamu pertimbangkan sebelum terjun ke dalam dunia short selling:

1. Potensi Kerugian Tak Terbatas

Saat melakukan short selling, kerugian yang bisa kamu alami tidak terbatas. Jika harga saham terus naik tanpa henti, kamu bisa menghadapi kerugian yang sangat besar karena harus membeli kembali saham dengan harga jauh lebih tinggi daripada harga saat meminjamnya.

2. Memerlukan Margin Account

Untuk melakukan short selling, kamu memerlukan akun margin. Akun ini memungkinkan kamu untuk meminjam dana atau saham dari broker, namun juga datang dengan kewajiban tambahan dan biaya yang terkait.

3. Margin Interest atau Bunga Pinjaman

Dana atau saham yang kamu pinjam untuk short selling tidak gratis. Kamu akan dikenakan bunga pinjaman atau margin interest oleh broker. Biaya ini bisa bertambah seiring waktu, terutama jika posisi short selling kamu terbuka dalam jangka waktu yang lama.

4. Kewajiban Menutup Posisi

Broker bisa memaksa kamu untuk menutup posisi short selling jika nilai margin kamu jatuh di bawah batas tertentu. Ini bisa mengakibatkan kerugian jika kamu harus membeli kembali saham di harga yang lebih tinggi dari harga jual awal.

5. Risiko Pasar yang Tak Terduga

Pergerakan pasar yang tidak terduga, seperti pengumuman berita penting atau perubahan regulasi, bisa menyebabkan lonjakan harga saham secara tiba-tiba. Hal ini bisa berdampak negatif pada posisi short selling kamu dan mengakibatkan kerugian besar.

6. Regulasi dan Pembatasan

Tidak semua saham bisa ditransaksikan melalui short selling. Bursa dan otoritas keuangan bisa memberlakukan pembatasan atau larangan short selling dalam situasi pasar tertentu, seperti saat volatilitas tinggi atau krisis ekonomi.

Contoh Short Selling

Untuk memberikan gambaran lebih jelas tentang bagaimana short selling berlangsung dalam praktiknya, mari kita lihat sebuah contoh. Misalkan seorang investor, dengan analisis pasar yang mendalam, memutuskan untuk melakukan short selling terhadap saham perusahaan XYZ. Investor ini meminjam 100 lembar saham XYZ dari broker dengan harga saat ini $50 per lembar, dan kemudian menjualnya di pasar terbuka. Total dana yang diperoleh dari penjualan saham adalah $5,000.

Beberapa minggu kemudian, harga saham XYZ turun drastis karena hasil keuangan perusahaan yang buruk atau berita buruk lainnya. Saat ini, harga saham XYZ hanya $30 per lembar. Investor memutuskan untuk menutup posisi short selling-nya dengan membeli kembali 100 lembar saham XYZ di pasar terbuka dengan total biaya $3,000.

Dalam transaksi ini, investor mendapatkan keuntungan sebesar $2,000 ($5,000 dari penjualan – $3,000 untuk pembelian kembali). Namun, jika harga saham XYZ justru naik menjadi $70 per lembar, investor akan mengalami kerugian sebesar $2,000 ($5,000 – $7,000 untuk pembelian kembali).

Contoh ini menunjukkan bagaimana short selling bisa menjadi strategi yang menguntungkan jika prediksi terhadap pergerakan harga saham tepat, namun juga mengandung risiko yang signifikan jika pergerakan pasar tidak sesuai dengan prediksi.

Keamanan Investasimu Prioritas Kami!

Aplikasi Reku tersedia di Android dan App Store. Download untuk mulai investasi lebih dari 100 aset kripto yang terdaftar. Alasan kenapa Reku menjadi pilihan bagi jutaan pengguna di Indonesia:

  • Fee transaksi sangat rendah
  • Tersedia mode Pro dan mode Lightning, cocok untuk segala jenis investor
  • Staking dengan APY hingga 12.5% dan berlisensi BAPPEBTI
  • Bisa mulai dengan modal Rp5.000
  • Analisa setiap minggu dari Crypto Researcher Reku

Tunggu apa lagi? Ayo mulai perjalanan investasimu di Reku sekarang!

 

Foto diambil dari Freepik.