Meta Terlihat Mahal, Padahal Sahamnya Sedang Undervalue
Saham Meta Platforms (META) kembali menjadi perdebatan di kalangan investor. Di satu sisi, bisnis inti perusahaan—periklanan digital—masih sangat kuat dan menghasilkan arus kas besar. Di sisi lain, lonjakan belanja modal untuk kecerdasan buatan (AI) memunculkan kekhawatiran lama: apakah Meta sedang mengulangi pola pengeluaran agresif tanpa kepastian imbal hasil, seperti yang pernah terjadi di masa lalu?
Performa saham mencerminkan ambiguitas ini. Setelah sempat menyentuh rekor tertinggi di pertengahan tahun, saham Meta terkoreksi dan tertinggal dari kinerja pasar secara keseluruhan. Ini bukan karena bisnis iklan runtuh, melainkan karena investor mulai mempertanyakan berapa mahal harga yang harus dibayar Meta untuk ambisi AI-nya—dan kapan investasi itu benar-benar menghasilkan uang.
Bisnis Iklan Masih Solid, Tapi Narasi Berubah
Secara fundamental, mesin uang Meta masih bekerja dengan baik. Facebook, Instagram, WhatsApp, dan Threads tetap menjadi platform utama bagi pengiklan global. Algoritma rekomendasi yang semakin canggih dan peningkatan efektivitas penargetan iklan terus mendorong pertumbuhan pendapatan.
Namun, fokus investor kini bergeser. Pertanyaannya bukan lagi “apakah iklan Meta kuat?”, melainkan “apa yang akan terjadi pada margin ketika belanja AI melonjak drastis?”. Kekhawatiran ini semakin relevan menjelang rilis panduan kinerja tahun depan, ketika angka-angka proyeksi belanja dan profitabilitas akan diuji secara nyata.

Masalah Utama: Belanja AI Tanpa Mesin Monetisasi Langsung
Salah satu sumber kekhawatiran terbesar adalah struktur bisnis Meta itu sendiri. Berbeda dengan beberapa raksasa teknologi lain, Meta tidak memiliki unit monetisasi AI yang berdiri sendiri seperti cloud computing. Alphabet memiliki Google Cloud, Amazon memiliki AWS. Meta? Hampir seluruh monetisasi tetap bergantung pada iklan.
Akibatnya, setiap dolar yang dihabiskan untuk AI—server, data center, model bahasa besar—langsung menekan margin, tanpa ada pendapatan AI yang jelas untuk menyeimbangkannya dalam jangka pendek.
Investor cenderung mendukung AI jika:
-
meningkatkan efektivitas iklan,
-
memperbaiki targeting,
-
atau menaikkan return on ad spend.
Sebaliknya, belanja besar untuk membangun asisten AI konsumen dinilai belum mendesak secara finansial. Potensi memang besar, tetapi monetisasinya masih kabur.
Kenapa Meta Tetap “Harus” All-In di AI
Meski terlihat berisiko, langkah agresif Meta di AI bukan tanpa alasan strategis. Ketergantungan pada model AI pihak ketiga berpotensi menciptakan risiko platform di masa depan. Jika suatu hari penyedia AI eksternal mengubah aturan, harga, atau akses, Meta bisa kembali terjebak seperti saat perubahan kebijakan privasi pihak lain beberapa tahun lalu.
Dengan memiliki seluruh stack AI sendiri—dari infrastruktur hingga model—Meta menjaga kontrol penuh atas ekosistemnya. Secara jangka panjang, ini adalah investasi untuk kemandirian strategis, meski biaya jangka pendeknya sangat besar.
Masalahnya, pasar sering kali tidak sabar.

AI dan Transformasi Iklan: Kartu As yang Kurang Diperhatikan
Salah satu potensi terbesar Meta justru datang dari segmen yang jarang disorot: pengiklan kecil dan menengah. Dengan AI generatif, pembuatan materi iklan—visual, teks, targeting—bisa menjadi jauh lebih murah dan otomatis.
Bagi bisnis kecil yang tidak mampu menyewa agensi besar, ini bisa menjadi game changer:
-
biaya iklan lebih efisien,
-
hasil kampanye lebih terukur,
-
dan return on ad spend meningkat.
Jika ini berhasil, Meta tidak hanya mempertahankan pengiklan lama, tetapi juga membuka pintu bagi gelombang baru belanja iklan, menciptakan siklus positif yang memperkuat bisnis inti.
Cek Harga META Hari Ini!
Model AI Baru dan Akuisisi Strategis
Meta menyiapkan model bahasa besar generasi baru yang dijadwalkan meluncur tahun depan. Targetnya bukan sekadar mengejar ketertinggalan, tetapi mendekati performa model AI terdepan di industri. Jika hasilnya kompetitif, sentimen pasar bisa berubah drastis.
Akuisisi terbaru di bidang AI juga memperkuat peta jalan ini. Nilainya relatif kecil dibanding ukuran Meta, tetapi sudah menghasilkan pendapatan dan memberi pijakan awal di dunia asisten AI yang mampu menjalankan tugas kompleks secara mandiri. Dalam jangka panjang, Meta kemungkinan akan mengintegrasikan teknologi ini dengan model internalnya sendiri, mempercepat monetisasi.
Moat Bisnis Masih Sangat Kuat
Terlepas dari kegaduhan jangka pendek, Meta tetap memiliki keunggulan struktural:
-
basis pengguna global dalam skala miliaran,
-
data dan jaringan yang sulit ditiru,
-
switching cost tinggi bagi pengiklan.
Skala inilah yang memungkinkan Meta terus berinvestasi agresif sambil tetap menghasilkan arus kas besar. Tidak banyak perusahaan yang mampu membiayai eksperimen AI sebesar ini tanpa membahayakan kelangsungan bisnis inti.
Risiko yang Tidak Bisa Diabaikan
Namun, risikonya nyata:
-
Jika model AI generasi berikutnya kembali mengecewakan, kepercayaan pasar bisa tergerus lebih jauh.
-
Belanja modal yang lebih tinggi dari perkiraan dapat menekan margin lebih dalam.
-
Perlambatan ekonomi global dapat memangkas anggaran iklan.
-
Risiko regulasi dan antimonopoli di AS masih membayangi.
Bahkan dalam skenario konservatif, margin Meta berpotensi turun tajam sebelum stabil kembali.
Kesimpulan: Saham Murah atau Ujian Kesabaran?
Meta berada di titik krusial. Dalam jangka pendek, sahamnya bisa tetap tertekan oleh kekhawatiran belanja AI dan margin. Namun, jika AI benar-benar meningkatkan efektivitas iklan dan model internal mulai kompetitif, valuasi saat ini bisa terlihat terlalu pesimistis.
Bagi investor jangka panjang, Meta bukan lagi cerita pertumbuhan tanpa hambatan, melainkan taruhan besar antara kesabaran dan keyakinan bahwa AI akan memperkuat, bukan menghancurkan, mesin uang iklan terbesar di dunia.
.
.
.
.
Yuk Mulai Investasi di Saham AS Sekarang!
Sekarang kamu bisa beli saham AS dari perusahaan ternama seperti NVIDIA, Intel, AMD, Google, Apple, hingga Unilever di Reku. Download aplikasi Reku sekarang dan mulai berinvestasi di aset global!
Disclaimer: Analisa market ini adalah hal yang bersifat informasional. Ini bukan merupakan tawaran untuk menjual atau ajakan untuk membeli atau menjual aset kripto dan saham AS apa pun di PT Rekeningku Dotcom Indonesia, perusahaan yang dibatasi oleh pihak atau entitas lain yang diorganisir, dikendalikan, atau dikelola oleh Reku, dan oleh karena itu tidak dapat diandalkan penuh sehubungan dengan pembelian atau penjualan aset kripto dan saham AS.
Dengan melakukan perdagangan aset kripto dan saham AS berarti nasabah sudah mengetahui ada unsur resiko di dalam aktivitas tersebut. Perubahan harga aset kripto sangat fluktuatif. Diharapkan menggunakan analisa cermat sebelum melakukan aktivitas membeli atau menjual aset kripto dan saham AS. Kami tidak memaksa nasabah untuk melakukan jual-beli aset kripto dan saham AS sebagai investasi atau mencari keuntungan, yang berarti semua aktivitas perdagangan merupakan keputusan individu dari pengguna.

