7 Risiko Investasi Saham yang Perlu Dipahami Sebelum Membeli Saham
Investasi saham menjadi salah satu pilihan untuk mengembangkan aset dalam jangka panjang. Potensi keuntungan dari kenaikan harga saham dan dividen membuat instrumen ini menarik bagi banyak investor. Namun, seperti instrumen investasi lainnya, saham juga memiliki risiko yang perlu dipahami sebelum kamu mulai berinvestasi.
Memahami risiko investasi saham bukan berarti kamu harus menghindari pasar saham. Justru, pengetahuan tentang risiko dapat membantu kamu mengambil keputusan yang lebih terukur, memilih saham sesuai profil risiko, dan menyusun portofolio dengan lebih baik.
7 Risiko Investasi Saham yang Perlu Dipahami
Berikut tujuh risiko investasi saham yang penting untuk kamu ketahui.
1. Risiko Penurunan Harga Saham
Risiko investasi saham yang paling mudah terlihat adalah penurunan harga. Harga saham dapat bergerak naik dan turun karena dipengaruhi oleh kinerja perusahaan, kondisi ekonomi, sentimen pasar, hingga berbagai peristiwa global.
Jika kamu membeli saham pada harga Rp5.000 per lembar, misalnya, kemudian harganya turun menjadi Rp4.000, nilai investasimu secara sementara turun 20%. Kerugian tersebut menjadi terealisasi apabila kamu menjual saham pada harga yang lebih rendah dari harga beli.
Apa yang memengaruhi harga saham?
Beberapa faktor yang dapat memengaruhi pergerakan harga saham antara lain:
- Kinerja dan laporan keuangan perusahaan.
- Prospek bisnis dan industri.
- Kondisi ekonomi dan tingkat suku bunga.
- Kebijakan pemerintah.
- Sentimen investor.
- Kondisi pasar global.
- Berita atau aksi korporasi perusahaan.
Karena itu, kenaikan harga pada masa lalu tidak menjamin harga saham akan terus naik pada masa mendatang.
2. Risiko Volatilitas Pasar
Volatilitas adalah tingkat perubahan harga suatu aset dalam periode tertentu. Semakin tinggi volatilitas, semakin besar pula perubahan harga yang dapat terjadi dalam waktu relatif singkat.
Bagi investor pemula, volatilitas dapat menjadi tantangan karena nilai portofolio bisa berubah cukup signifikan dari hari ke hari. Kondisi pasar juga dapat bergerak lebih cepat ketika terdapat perubahan kebijakan ekonomi, ketidakpastian geopolitik, atau sentimen global.
Bagaimana menghadapi volatilitas?
Kamu dapat mempertimbangkan beberapa langkah berikut:
- Menentukan tujuan investasi sebelum membeli saham.
- Menyesuaikan investasi dengan jangka waktu yang dimiliki.
- Tidak menggunakan seluruh dana pada satu saham.
- Melakukan diversifikasi ke beberapa aset atau sektor.
- Menghindari keputusan berdasarkan kepanikan sesaat.
Volatilitas merupakan bagian dari pasar saham. Karena itu, penting untuk memiliki strategi yang sesuai dengan kemampuanmu menghadapi perubahan nilai investasi.
3. Risiko Likuiditas
Risiko likuiditas terjadi ketika saham relatif sulit diperjualbelikan dalam jumlah atau harga yang kamu inginkan. Saham dengan transaksi yang sepi dapat memiliki selisih harga beli dan harga jual yang lebih lebar dibandingkan saham yang aktif diperdagangkan.
Kondisi ini dapat menyulitkan investor ketika ingin menjual saham dengan cepat, terutama jika jumlah saham yang dimiliki cukup besar.
Mengapa likuiditas penting?
Likuiditas perlu diperhatikan karena harga yang terlihat di pasar belum tentu menjamin seluruh saham yang kamu miliki dapat langsung terjual pada harga tersebut.
Sebelum membeli saham, kamu dapat memperhatikan volume transaksi dan aktivitas perdagangan saham. Saham dengan likuiditas yang baik umumnya lebih mudah diperjualbelikan karena memiliki aktivitas transaksi yang lebih tinggi.
4. Risiko Perusahaan
Investasi saham berarti kamu memiliki bagian kepemilikan dalam sebuah perusahaan. Karena itu, kondisi perusahaan secara langsung dapat memengaruhi nilai investasimu.
Perusahaan dapat mengalami penurunan pendapatan, peningkatan utang, kehilangan pangsa pasar, masalah operasional, hingga perubahan strategi bisnis yang tidak berjalan sesuai harapan.
Apa yang perlu diperhatikan investor?
Sebelum membeli saham, kamu dapat mempelajari beberapa informasi seperti:
- Pendapatan dan laba perusahaan.
- Pertumbuhan bisnis.
- Kondisi arus kas.
- Jumlah dan kemampuan perusahaan membayar utang.
- Keunggulan kompetitif.
- Prospek industri.
- Kualitas manajemen.
- Kebijakan pembagian dividen.
Semakin baik pemahamanmu terhadap bisnis perusahaan, semakin mudah untuk menilai apakah sebuah saham sesuai dengan strategi investasimu.
5. Risiko Ekonomi dan Kondisi Global
Pasar saham tidak bergerak secara terpisah dari perekonomian. Perubahan suku bunga, inflasi, nilai tukar, kebijakan pemerintah, hingga kondisi geopolitik dapat memengaruhi sentimen pasar.
Sebagai contoh, kenaikan suku bunga dapat memengaruhi biaya pendanaan perusahaan dan keputusan investor dalam mengalokasikan modal. Sementara itu, perlambatan ekonomi dapat berdampak terhadap pendapatan perusahaan di berbagai sektor.
Kondisi global juga dapat memberikan dampak pada pasar domestik. Karena itu, investor perlu memahami bahwa kinerja sebuah perusahaan tidak selalu menjadi satu-satunya faktor yang menentukan pergerakan harga saham.
6. Risiko Psikologis Investor
Selain faktor pasar dan perusahaan, salah satu risiko investasi saham yang sering diabaikan berasal dari investor itu sendiri.
Harga saham yang turun tajam dapat memicu rasa takut, sementara kenaikan harga yang cepat dapat menimbulkan rasa terlalu percaya diri. Kedua kondisi tersebut dapat mendorong keputusan investasi yang tidak berdasarkan analisis.
Contoh kesalahan karena faktor psikologis
Beberapa perilaku yang perlu diwaspadai antara lain:
- Menjual saham hanya karena panik ketika harga turun.
- Membeli saham karena mengikuti tren tanpa memahami bisnisnya.
- Mengejar saham yang sudah naik terlalu tinggi karena takut ketinggalan.
- Terlalu sering melakukan transaksi tanpa strategi.
- Menggunakan dana kebutuhan sehari-hari untuk investasi.
- Mengabaikan batas kerugian yang sudah ditentukan.
Membuat rencana investasi sebelum melakukan transaksi dapat membantu mengurangi keputusan impulsif ketika kondisi pasar berubah.
7. Risiko Konsentrasi Portofolio
Risiko konsentrasi terjadi ketika sebagian besar dana investasi ditempatkan pada satu saham, sektor, atau jenis aset tertentu.
Sebagai contoh, seseorang memiliki lima saham tetapi semuanya berasal dari sektor yang sama. Secara jumlah memang terlihat terdiversifikasi, tetapi portofolionya tetap dapat terdampak besar jika sektor tersebut mengalami tekanan.
Cara mengurangi risiko konsentrasi
Diversifikasi dapat menjadi salah satu cara untuk mengelola risiko. OJK juga menjelaskan diversifikasi sebagai penanaman modal pada berbagai jenis investasi dengan tujuan mengurangi kemungkinan risiko yang dihadapi.
Kamu dapat mempertimbangkan diversifikasi berdasarkan:
- Jenis aset.
- Sektor industri.
- Perusahaan.
- Wilayah atau negara.
- Jangka waktu investasi.
Namun, diversifikasi bukan berarti membeli sebanyak mungkin aset tanpa mempertimbangkan kualitasnya. Portofolio tetap perlu disesuaikan dengan tujuan, profil risiko, dan kemampuanmu dalam memahami aset tersebut.
Apakah Risiko Investasi Saham Bisa Dihilangkan?
Risiko investasi saham tidak dapat dihilangkan sepenuhnya. Bahkan saham dari perusahaan dengan fundamental yang baik tetap dapat mengalami penurunan harga akibat kondisi pasar.
Yang dapat dilakukan investor adalah mengelola risiko tersebut. Salah satunya dengan memahami aset sebelum membeli, melakukan diversifikasi, menentukan alokasi dana, serta menggunakan strategi yang sesuai dengan tujuan investasi.
Jika kamu memiliki toleransi risiko yang lebih tinggi, kamu mungkin dapat mempertimbangkan aset dengan volatilitas lebih tinggi. Sebaliknya, jika tujuanmu membutuhkan stabilitas yang lebih besar, alokasi portofolio perlu disesuaikan agar tidak terlalu agresif.
Diversifikasi Tidak Harus Terbatas pada Saham Indonesia
Diversifikasi juga dapat dilakukan dengan mempertimbangkan pasar global. Saham Amerika, misalnya, memberikan akses ke perusahaan global dari berbagai sektor dan dapat menjadi salah satu pilihan untuk melengkapi portofolio.
Selain saham, sebagian investor juga mempertimbangkan aset kripto sebagai bagian dari portofolio. Namun, kripto memiliki karakteristik dan tingkat volatilitas yang berbeda sehingga tetap perlu dipelajari dan disesuaikan dengan profil risiko masing-masing.
Jika kamu ingin mengakses beberapa jenis aset dari satu platform, Reku menyediakan layanan jual beli crypto serta akses ke saham Amerika dan ETF. Saat ini, Reku menyediakan akses ke 350+ aset kripto serta 600+ saham AS dan ETF.
Dengan pilihan tersebut, kamu dapat mempelajari berbagai kelas aset dan menentukan sendiri bagaimana ingin membangun portofolio sesuai tujuan finansialmu. Tetap lakukan riset terlebih dahulu sebelum mengambil keputusan investasi karena setiap aset memiliki risiko yang berbeda.
Ada tujuh risiko investasi saham yang penting untuk dipahami, yaitu risiko penurunan harga, volatilitas pasar, likuiditas, kondisi perusahaan, ekonomi dan kondisi global, psikologis investor, serta konsentrasi portofolio.
Memahami risiko bukan berarti menghindari investasi saham. Sebaliknya, pemahaman tersebut dapat membantu kamu mengambil keputusan dengan lebih rasional dan mempersiapkan strategi ketika kondisi pasar berubah.
Pada akhirnya, investasi saham sebaiknya dilakukan menggunakan dana yang sesuai dengan kemampuan finansial, memiliki tujuan yang jelas, dan didukung oleh riset yang memadai. Dengan pengelolaan risiko yang baik, kamu dapat membangun portofolio secara lebih terencana, baik melalui saham Indonesia maupun dengan mempertimbangkan aset global seperti saham Amerika dan kripto.

