Emas sering dianggap sebagai salah satu aset yang relatif aman untuk menjaga nilai kekayaan dalam jangka panjang. Namun, bukan berarti investasi emas bebas dari risiko. Sama seperti instrumen investasi lainnya, harga emas dapat mengalami perubahan dan investor tetap berpotensi mengalami kerugian.
Memahami risiko investasi emas penting sebelum kamu membeli emas, baik dalam bentuk fisik maupun digital. Dengan mengetahui risikonya, kamu bisa menentukan strategi investasi, jangka waktu, dan jumlah dana yang sesuai dengan kondisi keuanganmu.
8 Risiko Investasi Emas
Berikut adalah delapan risiko investasi emas yang perlu kamu pertimbangkan.
1. Risiko Fluktuasi Harga Emas
Salah satu risiko investasi emas yang paling utama adalah perubahan harga. Meskipun emas sering dianggap sebagai aset safe haven, harganya tetap dapat naik dan turun mengikuti kondisi pasar global.
Beberapa faktor yang dapat memengaruhi harga emas antara lain:
- Kebijakan suku bunga bank sentral.
- Pergerakan dolar Amerika Serikat.
- Kondisi ekonomi global.
- Inflasi.
- Ketegangan geopolitik.
- Permintaan dan penawaran emas.
Artinya, membeli emas ketika harga sedang tinggi tidak menjamin kamu langsung mendapatkan keuntungan. Jika harga turun setelah pembelian dan kamu menjualnya dalam kondisi tersebut, nilai investasi yang kamu terima bisa lebih rendah dari modal awal.
Karena itu, jangan menganggap emas sebagai aset yang selalu naik setiap saat. Pergerakan harganya tetap perlu diperhatikan, terutama jika kamu memiliki tujuan investasi dalam jangka pendek.
2. Risiko Spread Harga Beli dan Jual
Saat membeli emas, kamu biasanya akan menemukan perbedaan antara harga beli dan harga jual kembali atau buyback. Selisih ini dikenal sebagai spread.
Sebagai contoh, jika kamu membeli emas pada harga Rp1.500.000 per gram, harga buyback pada saat yang sama mungkin berada di bawah harga tersebut. Akibatnya, harga emas perlu naik terlebih dahulu sebelum keuntungan investasi dapat menutup selisih tersebut.
Spread menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan karena dapat memengaruhi keuntungan, terutama jika kamu sering melakukan transaksi dalam jangka pendek.
Semakin sering membeli dan menjual emas, semakin penting untuk memperhitungkan spread agar kamu tidak hanya melihat kenaikan harga emas secara nominal.
3. Risiko Likuiditas
Likuiditas berkaitan dengan seberapa mudah suatu aset dapat dijual dan diubah kembali menjadi uang tunai.
Emas pada dasarnya cukup mudah dijual, tetapi proses dan kecepatannya dapat berbeda tergantung jenis emas dan tempat kamu melakukan transaksi. Emas fisik, misalnya, mungkin perlu dibawa ke toko emas, lembaga keuangan, atau tempat buyback tertentu.
Selain itu, harga yang ditawarkan saat penjualan kembali belum tentu sama dengan harga pasar yang kamu lihat. Kondisi fisik emas, jenis produk, sertifikat, dan tempat transaksi dapat memengaruhi harga buyback.
Karena itu, sebelum membeli emas, pastikan kamu mengetahui bagaimana mekanisme penjualan kembalinya dan berapa biaya atau selisih harga yang mungkin berlaku.
4. Risiko Penyimpanan dan Keamanan Emas Fisik
Investasi emas dalam bentuk fisik memiliki risiko tambahan berupa penyimpanan dan keamanan.
Jika emas disimpan di rumah, kamu perlu mempertimbangkan risiko kehilangan, pencurian, maupun kerusakan. Semakin besar jumlah emas yang dimiliki, semakin penting pula sistem penyimpanan yang aman.
Kamu dapat menggunakan brankas pribadi atau layanan penyimpanan tertentu. Namun, pilihan tersebut dapat menimbulkan biaya tambahan yang perlu diperhitungkan dalam total biaya investasi.
Jadi, keuntungan dari kenaikan harga emas sebaiknya tidak dilihat secara terpisah dari biaya untuk menjaga aset tersebut tetap aman.
5. Risiko Biaya Tambahan
Investasi emas dapat melibatkan sejumlah biaya, tergantung pada produk yang kamu pilih.
Pada emas fisik, misalnya, terdapat kemungkinan biaya cetak, administrasi, penyimpanan, atau biaya lain yang berkaitan dengan pembelian dan penjualan. Sementara itu, produk emas digital juga dapat memiliki struktur biaya yang berbeda.
Biaya yang terlihat kecil dapat memengaruhi hasil investasi jika berlangsung berulang kali dalam jangka panjang.
Sebelum membeli emas, periksa terlebih dahulu seluruh biaya yang berlaku. Jangan hanya membandingkan harga emas, tetapi pertimbangkan juga biaya pembelian, penyimpanan, dan penjualan kembali.
6. Risiko Emas Tidak Menghasilkan Pendapatan Pasif
Berbeda dengan beberapa aset seperti saham yang dapat memberikan dividen, emas tidak menghasilkan pendapatan rutin hanya karena kamu menyimpannya.
Keuntungan investasi emas pada dasarnya bergantung pada kenaikan harga aset tersebut. Kamu baru merealisasikan keuntungan ketika menjual emas pada harga yang lebih tinggi setelah memperhitungkan spread dan biaya terkait.
Hal ini membuat emas memiliki karakter yang berbeda dari aset yang dapat memberikan cash flow secara berkala.
Jika tujuanmu adalah membangun portofolio dengan kombinasi pertumbuhan nilai dan potensi pendapatan, kamu dapat mempertimbangkan diversifikasi ke beberapa jenis aset sesuai profil risiko dan tujuan keuangan.
7. Risiko Kehilangan Daya Beli Jika Return Tidak Mengimbangi Inflasi
Emas sering digunakan sebagai salah satu aset untuk membantu menjaga nilai kekayaan ketika terjadi inflasi. Namun, bukan berarti investasi emas selalu memberikan return yang lebih tinggi daripada inflasi.
Ada periode ketika harga emas bergerak relatif lambat atau bahkan mengalami penurunan. Jika kenaikan harga emas dalam periode tertentu lebih rendah daripada inflasi, daya beli dari keuntungan yang kamu dapatkan bisa tetap terbatas.
Karena itu, penting untuk melihat investasi emas dalam konteks tujuan keuangan secara keseluruhan. Jangan hanya berfokus pada apakah harga emas naik, tetapi pertimbangkan juga berapa besar pertumbuhan nilai investasi yang kamu butuhkan untuk mencapai tujuan finansial.
8. Risiko Salah Menentukan Tujuan dan Jangka Waktu Investasi
Risiko investasi emas juga dapat muncul karena ketidaksesuaian antara instrumen dan tujuan investasi.
Misalnya, kamu membeli emas untuk kebutuhan yang harus dibayar dalam beberapa bulan. Jika pada saat membutuhkan dana harga emas sedang turun, kamu mungkin terpaksa menjualnya dalam kondisi kurang menguntungkan.
Sebaliknya, jika tujuanmu adalah menjaga nilai aset dalam jangka panjang, fluktuasi harga dalam hitungan hari atau minggu mungkin tidak terlalu relevan.
Sebelum membeli emas, tentukan terlebih dahulu:
- Apa tujuan investasimu?
- Berapa lama dana akan diinvestasikan?
- Berapa besar risiko yang sanggup kamu terima?
- Kapan dana tersebut kemungkinan akan digunakan?
Dengan begitu, emas dapat ditempatkan sebagai bagian dari strategi investasi, bukan sekadar aset yang dibeli karena harganya sedang naik.
Cara Mengurangi Risiko Investasi Emas
Tidak ada investasi yang benar-benar bebas risiko. Namun, kamu dapat mengelola risikonya dengan beberapa langkah sederhana.
Pertama, hindari menempatkan seluruh dana pada satu jenis aset. Diversifikasi dapat membantu mengurangi ketergantungan portofolio terhadap pergerakan satu instrumen.
Kedua, gunakan dana yang memang dialokasikan untuk investasi. Hindari menggunakan dana darurat atau uang yang akan segera digunakan untuk kebutuhan penting.
Ketiga, pahami biaya dan mekanisme transaksi sebelum membeli. Ini termasuk spread, biaya penyimpanan, biaya administrasi, serta mekanisme buyback.
Terakhir, tentukan strategi berdasarkan tujuan dan jangka waktu investasi, bukan hanya mengikuti tren harga.
Apakah Emas Cocok untuk Semua Investor?
Emas dapat menjadi salah satu pilihan untuk diversifikasi portofolio, tetapi belum tentu cocok untuk setiap tujuan keuangan. Investor yang menginginkan potensi pertumbuhan dari berbagai sumber dapat mempertimbangkan kombinasi beberapa kelas aset.
Selain emas, kamu dapat mempelajari aset seperti saham Amerika dan aset crypto. Keduanya memiliki karakteristik dan tingkat risiko yang berbeda sehingga penting untuk memahami instrumennya sebelum berinvestasi.
Jika kamu ingin mengeksplorasi aset global dari satu platform, Reku menyediakan akses ke berbagai aset kripto serta saham Amerika. Di Reku, kamu dapat membeli dan menjual lebih dari 350 aset kripto serta mengakses ratusan saham AS dan ETF.
Dengan pilihan aset yang lebih beragam, kamu dapat menyusun portofolio sesuai tujuan dan toleransi risiko, tanpa harus bergantung pada satu instrumen saja.


