Bitcoin Sempat Tergelincir ke US$83 Ribu, Reli Delapan Bulan Tertahan
Harga Bitcoin berbalik melemah setelah sempat menyentuh level tertinggi dalam delapan bulan terakhir. Dalam 24 jam terakhir, BTC bergerak dari puncak US$87.251 hingga menyentuh titik terendah US$83.654, sebelum sedikit pulih ke kisaran US$84.270 atau sekitar Rp1,5 miliar. Secara harian, Bitcoin terkoreksi sekitar 2,6%, meski dalam sepekan masih mencatat kenaikan lebih dari 11%.
Penurunan ini terjadi tak lama setelah Bitcoin ditutup di atas US$86.000 pada awal pekan. Begitu harga menembus ke bawah US$84.000, level yang sepanjang 2026 kerap menjadi titik balik penting, rentetan stop-loss dan likuidasi otomatis langsung terpicu di berbagai exchange.
Data CoinGlass mencatat total likuidasi di market kripto mencapai sekitar US$504 juta dalam sehari, dengan posisi long menyumbang hampir US$360 juta. Dalam satu jam paling tajam saja, posisi long yang tersapu mencapai lebih dari US$230 juta, menandakan leverage di pasar sudah terlalu menumpuk setelah reli beruntun.
Tekanan juga datang dari sisi makro. Harga minyak Brent melonjak menembus US$101 per barel, imbal hasil obligasi AS masih tinggi, dan The Fed baru saja menaikkan suku bunga ke kisaran 3,75%–4,00% pada 16 September, kenaikan pertama sejak 2023. Kondisi ini membuat investor cenderung mengurangi eksposur ke aset berisiko.
Para trader kini mencermati apakah area US$83.000–US$84.000 mampu bertahan sebagai support. Jika jebol, level max pain bulanan di sekitar US$79.780 menjadi area berikutnya yang diperhatikan. Saat ini Bitcoin masih berada sekitar 33% di bawah rekor tertingginya di kisaran US$126.000 yang dicetak pada Oktober 2025.