USDT Senilai $550 Juta Terkait Iran Dibekukan, Sorotan Kepatuhan Tether Makin Tajam
Tether membekukan sekitar $550 juta USDT yang terhubung dengan jaringan Iran atas permintaan salah satu lembaga pemerintah Amerika Serikat. Langkah ini kembali menempatkan penerbit stablecoin terbesar di dunia itu di tengah perdebatan soal penegakan sanksi di ranah kripto.
Skala persoalannya tidak kecil. Pada kuartal keempat 2025, volume transaksi USDT mencapai sekitar $4,4 triliun. Data yang beredar juga menunjukkan lebih dari $600 juta USDT dapat dilacak ke dua pelaku penyelundupan minyak Iran yang terkena sanksi sepanjang 2021 hingga 2025. Sebuah laporan Senat AS mencatat bahwa 84% dari 846 wallet yang masuk daftar sanksi atau target penyitaan menggunakan USDT sebagai aset utama.
USDT disebut telah menjadi bagian penting dari sistem shadow banking Iran, dengan alur dana yang menghubungkan bank-bank Iran ke jaringan keuangan yang dikaitkan dengan Hizbullah dan Houthi. CEO Tether Paolo Ardoino menegaskan bahwa blockchain publik justru memberi penyidik jejak yang tidak dimiliki uang tunai, dan perusahaan akan membekukan aset begitu aparat hukum menyodorkan informasi yang kredibel.
Namun kekhawatiran baru muncul seiring pengembangan StableChain, infrastruktur pembayaran yang menawarkan finality sekitar 0,7 detik dan target kapasitas hingga 10.000 transaksi per detik. Kecepatan setinggi itu dikhawatirkan menyulitkan sistem pemantauan kepatuhan untuk mendeteksi transaksi mencurigakan secara real-time.