Investing
Market
Learning Hub
Security
Fees
Other
Download Reku Apps
google-icon

Analysis

Publikasi (Deep Dives)
Analisa Kripto
Analisa Makro
Ringkasan Reku
Update Saham AS
Analisa Saham AS
Update Kripto
AMD vs Nvidia, Siapa yang Akan Menguasai Masa Depan Industri AI?
Analisa Saham AS
Share!

AMD vs Nvidia, Siapa yang Akan Menguasai Masa Depan Industri AI?

13 January 2026
6 min read
AMD vs Nvidia, Siapa yang Akan Menguasai Masa Depan Industri AI?

Key takeaways :

  • Nvidia masih menjadi penguasa AI dengan dominasi pasar, ekosistem CUDA yang kuat, dan pertumbuhan laba yang solid.
  • AMD adalah penantang utama dengan fokus pada memori besar, inference AI, dan pendekatan software terbuka.
  • Nvidia menawarkan stabilitas, sementara AMD menawarkan potensi upside lebih besar bagi investor.

Ledakan artificial intelligence telah menciptakan salah satu rivalitas paling asimetris dalam sejarah pasar modal modern. Nvidia berdiri sebagai raja mutlak chip AI, sementara AMD muncul sebagai penantang yang paling cepat mengejar. Meski bertarung di medan silikon yang sama, kinerja saham, posisi bisnis, dan ekspektasi investor terhadap kedua perusahaan ini sangat berbeda.

Reaksi pasar terbaru mempertegas perbedaan tersebut. Saham AMD turun 4 persen setelah acara peluncuran produk AI, karena investor belum melihat bukti konkret percepatan pendapatan. Sebaliknya, Nvidia telah melesat hingga valuasi 5 triliun dolar AS, ditopang oleh permintaan AI yang luar biasa kuat dan lonjakan laba. Kontras ini memunculkan pertanyaan kunci bagi investor: apakah AMD adalah Nvidia berikutnya, atau hanya alternatif yang akan terus dihargai lebih murah?

 

Nvidia: Raja Chip AI

Dominasi Nvidia di AI bukan hanya soal hardware, melainkan soal penguasaan ekosistem. GPU Nvidia menjadi tulang punggung hampir semua sistem AI besar saat ini, mulai dari OpenAI, Meta, hingga Microsoft dan Google. Nvidia menguasai sekitar 90 persen pasar GPU data center menurut IDC, sebuah tingkat dominasi yang jarang terjadi di industri teknologi modern.

Arsitektur unggulan Nvidia saat ini, Hopper (H100 dan H200) serta Blackwell (B200), dirancang khusus untuk training dan deployment model AI berskala besar. Blackwell sendiri diklaim memberikan performa training AI 2,5 kali lebih tinggi dibanding Hopper, dengan desain chip yang menggabungkan beberapa die untuk melampaui batas manufaktur chip tunggal.

Namun, keunggulan utama Nvidia terletak pada CUDA, platform software proprietary yang telah dikembangkan hampir dua dekade. CUDA terintegrasi sangat dalam dengan PyTorch, TensorFlow, dan hampir seluruh framework AI utama. Bagi developer, CUDA bekerja dengan mulus, menjadikan Nvidia sebagai pilihan default meskipun dengan harga premium.

Keunggulan ekosistem ini tercermin langsung dalam kinerja keuangan. Nvidia berada di jalur untuk membukukan laba bersih yang lebih besar dibanding total pendapatan AMD dan Intel jika digabung. Unit data center Nvidia saja diproyeksikan menghasilkan sekitar 500 miliar dolar AS pendapatan dalam lima kuartal ke depan. Permintaan bahkan masih melampaui pasokan, termasuk untuk chip generasi lama.

Cek harga saham NVIDIA >

 

AMD: Penantang dengan Landasan Pertumbuhan Panjang

AMD berada di posisi yang sangat berbeda. Perusahaan ini belum memimpin pasar AI, tetapi menjadi satu-satunya pemain yang secara serius menantang Nvidia.

Dalam acara produk terbarunya, CEO Lisa Su memperkenalkan MI325X, versi terbaru dari lini akselerator Instinct. Chip ini menekankan kapasitas memori dan performa inference, dengan penggunaan HBM generasi baru yang diklaim mampu melampaui Nvidia H100 pada beban kerja inference tertentu. Strategi AMD jelas, yaitu unggul di era di mana ukuran model semakin besar dan memori menjadi bottleneck utama.

AMD juga berkomitmen merilis akselerator AI baru setiap tahun, menyamai ritme inovasi Nvidia. Yang lebih penting, AMD telah memperoleh validasi pasar dengan kesepakatan bersama OpenAI dan Oracle, menandakan bahwa hyperscaler mulai serius mencari alternatif selain Nvidia.

Dari sisi finansial, AMD menargetkan pendapatan 4,5 miliar dolar AS dari akselerator AI tahun ini, angka yang masih kecil dibanding Nvidia namun meningkat pesat dari hampir nol beberapa tahun lalu. Lisa Su memperkirakan pasar akselerator AI dapat mencapai 500 miliar dolar AS pada 2028, membuka ruang pertumbuhan besar meski AMD hanya merebut sebagian kecil pangsa pasar.

Meski demikian, investor masih bersikap hati-hati. Berbeda dengan Nvidia, AMD belum menunjukkan percepatan laba berbasis AI yang konsisten. Wall Street menunggu konfirmasi melalui laporan keuangan kuartalan mendatang.

Cek harga saham AMD >

 

Hardware: Efisiensi vs Kapasitas

Pada level silikon, Nvidia dan AMD mengoptimalkan prioritas yang berbeda.

Nvidia membangun GPU dengan hardware khusus AI seperti Tensor Cores dan Transformer Engine, memungkinkan training model bahasa besar menjadi lebih cepat melalui teknik mixed precision seperti FP8. Hal ini menjadikan Nvidia unggul dalam efisiensi waktu training, faktor krusial bagi laboratorium AI yang berlomba meluncurkan model terbaru.

AMD mengambil pendekatan berbeda dengan menekankan kepadatan komputasi dan kapasitas memori yang sangat besar. GPU seperti MI300X dan MI325X mampu menampung model yang jauh lebih besar dalam satu chip, sehingga mengurangi kebutuhan paralelisme yang kompleks. Pada beberapa skenario inference, GPU AMD bahkan menunjukkan latensi hingga 40 persen lebih rendah dibanding H100 berkat bandwidth memori yang lebih tinggi.

Secara sederhana, Nvidia unggul dalam efisiensi training dan kematangan ekosistem, sementara AMD unggul pada inference berskala besar dan rasio biaya terhadap performa.

 

CUDA vs ROCm: Medan Pertempuran Sesungguhnya

Meski hardware penting, software tetap menjadi penentu adopsi.

CUDA milik Nvidia masih menjadi standar industri. Stabilitas, dokumentasi, dan komunitas globalnya menjadikannya pilihan paling aman untuk sistem AI produksi. Namun, sifat proprietary CUDA membuat pelanggan terkunci pada hardware Nvidia.

AMD menjawab tantangan ini dengan ROCm, platform open source yang berkembang pesat dalam beberapa tahun terakhir. ROCm kini mendukung PyTorch, TensorFlow, dan DeepSpeed dengan tingkat kompatibilitas mendekati CUDA, meski masih membutuhkan tuning lebih lanjut. Bagi perusahaan yang menginginkan diversifikasi vendor dan efisiensi biaya, ROCm kini menjadi alternatif yang semakin realistis.

Perbedaan software inilah yang menjelaskan perilaku pasar saham. Nvidia diperlakukan sebagai pemilik platform monopoli, sementara AMD masih dinilai sebagai penantang hardware dengan risiko eksekusi.

Realita Pasar Saham: Momentum vs Opsionalitas

Dari perspektif investasi, Nvidia dan AMD merepresentasikan dua jenis taruhan yang sangat berbeda.

Saham Nvidia dihargai berdasarkan dominasi, konsistensi eksekusi, dan berlanjutnya belanja AI global. Risiko utama datang dari potensi perlambatan belanja AI atau tekanan regulasi, terutama terkait China.

Saham AMD menawarkan opsionalitas. AMD tidak perlu mengalahkan Nvidia untuk berhasil. Bahkan peningkatan pangsa pasar AI satu digit saja sudah cukup untuk menggerakkan laba dan valuasi secara signifikan.

Namun, opsionalitas ini menuntut kesabaran. Volatilitas saham AMD mencerminkan ketidakpastian pasar mengenai kapan kemajuan teknologi AI benar-benar diterjemahkan menjadi margin dan EPS yang kuat.

 

Reku Takeaway

Nvidia adalah masa kini dari komputasi AI, dominan, sangat menguntungkan, dan tertanam kuat dalam ekosistem global. AMD adalah penantang masa depan, bertaruh pada keterbukaan, keunggulan memori, dan diversifikasi pelanggan untuk merebut pangsa pasar dalam industri yang masih terus berkembang.

Bagi investor, pilihan ini bersifat filosofis. Nvidia menawarkan keyakinan, skala, dan momentum dengan valuasi premium. AMD menawarkan asimetri, ketidakpastian yang lebih tinggi namun dengan potensi upside yang lebih besar jika strategi AI-nya berhasil dikonversi menjadi laba.

Perang AI masih jauh dari selesai. Nvidia mungkin sedang melaju kencang hari ini, tetapi AMD memastikan bahwa ketika fase berikutnya dimulai, ia tidak akan berlari sendirian.

 

Yuk Mulai Investasi di Saham AS Sekarang! 

Sekarang kamu bisa beli saham AS dari perusahaan ternama seperti NVIDIA, Intel, AMD, Google, Apple, hingga Unilever di Reku. Download aplikasi Reku sekarang dan mulai berinvestasi di aset global!

Disclaimer: Analisa market ini adalah hal yang bersifat informasional. Ini bukan merupakan tawaran untuk menjual atau ajakan untuk membeli atau menjual aset kripto dan saham AS apa pun di PT Rekeningku Dotcom Indonesia, perusahaan yang dibatasi oleh pihak atau entitas lain yang diorganisir, dikendalikan, atau dikelola oleh Reku, dan oleh karena itu tidak dapat diandalkan penuh sehubungan dengan pembelian atau penjualan aset kripto dan saham AS.

Dengan melakukan perdagangan aset kripto dan saham AS berarti nasabah sudah mengetahui ada unsur resiko di dalam aktivitas tersebut. Perubahan harga aset kripto sangat fluktuatif. Diharapkan menggunakan analisa cermat sebelum melakukan aktivitas membeli atau menjual aset kripto dan saham AS. Kami tidak memaksa nasabah untuk melakukan jual-beli aset kripto dan saham AS sebagai investasi atau mencari keuntungan, yang berarti semua aktivitas perdagangan merupakan keputusan individu dari pengguna.

Stephanus Renaldi
AuthorStephanus Renaldi
Share!
Related Articles
    Saham Teknologi Dell (DELL) Potensi Swing Trade, Upside hingga 42%
  1. Saham Teknologi Dell (DELL) Potensi Swing Trade, Upside hingga 42%
  2. 12 January 2026
    1 min read
    Analisa Saham AS
    Pasar Saham AS Menguat Sepekan, Investor Mulai Beralih ke Sektor Defensif
  3. Pasar Saham AS Menguat Sepekan, Investor Mulai Beralih ke Sektor Defensif
  4. 09 January 2026
    1 min read
    Analisa Saham AS
Analysis
In-depth market analysis
Blog
Learn more about crypto
FAQ
Find out the latest Crypto and Stock news
Market
Start exploring and investing in Crypto assets and US Stocks on Reku