5 Instrumen Investasi Alternatif Deposito yang Bisa Kamu Coba
Deposito selama ini dikenal sebagai instrumen simpanan yang aman dan mudah dipahami, terutama bagi kamu yang baru mulai belajar mengelola keuangan. Namun, bunga deposito yang relatif kecil dan dana yang terkunci dalam periode tertentu membuat banyak orang mulai mencari alternatif deposito yang bisa memberikan potensi imbal hasil lebih optimal.
Kabar baiknya, ada beberapa instrumen keuangan lain yang bisa kamu pertimbangkan sebagai pelengkap atau bahkan pengganti simpanan konvensional ini. Artikel ini akan membahas lima pilihan yang paling umum dipertimbangkan investor di Indonesia, perbedaannya dengan deposito, sampai cara memilih instrumen yang paling sesuai dengan kebutuhanmu.
Kenapa Deposito Kurang Optimal untuk Sebagian Investor?
Bunga deposito bank umum di Indonesia saat ini berkisar di angka 3-5% per tahun, tergantung tenor dan bank yang kamu pilih. Angka ini kerap kali hanya sedikit di atas atau bahkan mendekati tingkat inflasi tahunan, sehingga pertumbuhan nilai riil uangmu jadi terbatas dalam jangka panjang kalau hanya mengandalkan instrumen ini saja.
Selain itu, bunga deposito juga dikenakan pajak final sebesar 20% sesuai ketentuan pemerintah, yang semakin mengurangi imbal hasil bersih yang kamu terima. Dana yang tertanam di deposito juga tidak bisa dicairkan sebelum jatuh tempo tanpa dikenakan penalti, sehingga fleksibilitasnya cukup terbatas dibanding instrumen lain.
Faktor lain yang membuat sebagian orang beralih adalah minimnya potensi pertumbuhan modal. Deposito dirancang untuk menjaga nilai pokok, bukan untuk mengejar pertumbuhan aset dalam jangka panjang, sehingga kurang optimal bagi investor dengan target keuangan yang lebih ambisius.
5 Alternatif Deposito untuk Kebutuhan Investasi
Berikut lima instrumen yang sering dipilih sebagai pengganti atau pelengkap deposito, masing-masing dengan karakteristik risiko dan potensi imbal hasil yang berbeda.
1. Reksadana Pasar Uang
Reksadana pasar uang mengalokasikan dana ke instrumen jangka pendek seperti deposito bank dan surat utang jangka pendek. Potensi imbal hasilnya cenderung sedikit lebih tinggi, biasanya di kisaran 4-6% per tahun, dengan risiko yang relatif rendah dan likuiditas yang jauh lebih fleksibel karena bisa dicairkan kapan saja tanpa penalti.
2. Surat Berharga Negara (SBN) Ritel
SBN Ritel seperti ORI dan SBR diterbitkan pemerintah dengan kupon tetap yang biasanya lebih tinggi dari bunga deposito, bahkan bisa mencapai 6-7% per tahun tergantung seri yang diterbitkan. Instrumen ini dijamin langsung oleh negara, meski dana kamu akan terikat selama periode tenor tertentu, biasanya 2 sampai 3 tahun.
3. Emas
Emas menjadi pilihan populer karena sifatnya sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi dalam jangka panjang. Berbeda dari deposito yang memberikan bunga tetap, keuntungan emas berasal dari kenaikan harga, sehingga hasilnya bisa lebih fluktuatif dalam jangka pendek. Kamu bisa membeli emas fisik, emas digital, atau produk turunannya seperti ETF emas.
4. Crypto
Bagi kamu yang punya toleransi risiko lebih tinggi dan tujuan investasi jangka panjang, crypto bisa jadi pilihan dengan potensi imbal hasil yang jauh lebih besar, meski risiko fluktuasi harganya juga jauh lebih tinggi dibanding deposito maupun SBN Ritel. Instrumen ini cocok sebagai porsi pertumbuhan dalam portofolio, bukan sebagai pengganti dana darurat.
5. Saham Amerika
Selain crypto, saham Amerika juga bisa jadi alternatif deposito bagi investor yang ingin eksposur ke perusahaan-perusahaan global. Potensi pertumbuhannya bisa signifikan dalam jangka panjang, tapi tetap perlu diimbangi dengan pemahaman risiko fluktuasi pasar saham yang bisa cukup tajam dalam jangka pendek.
Perbedaan Deposito dan Instrumen Investasi Lain
Sebelum memutuskan pindah, ada baiknya kamu memahami dulu perbedaan mendasar antara deposito dan kelima alternatif di atas dari beberapa aspek berikut.
- Sumber imbal hasil. Deposito memberikan bunga tetap yang sudah pasti besarannya sejak awal, sementara reksadana pasar uang dan SBN Ritel memberi imbal hasil dari bunga instrumen dasarnya, dan emas, crypto, serta saham Amerika memberi imbal hasil dari pergerakan harga yang fluktuatif.
- Tingkat risiko. Deposito dan SBN Ritel tergolong risiko rendah, reksadana pasar uang juga relatif rendah, sedangkan emas berada di level menengah, dan crypto maupun saham Amerika tergolong risiko tinggi karena volatilitas harganya.
- Likuiditas. Deposito dan SBN Ritel punya periode terikat yang jelas sehingga kurang fleksibel, sementara reksadana pasar uang, emas, crypto, dan saham Amerika umumnya bisa dicairkan lebih cepat kapan saja dibutuhkan.
Berikut rangkuman perbandingannya dalam bentuk tabel:
| Instrumen | Sumber Imbal Hasil | Tingkat Risiko | Likuiditas |
|---|---|---|---|
| Deposito | Bunga tetap | Rendah | Terikat tenor |
| Reksadana Pasar Uang | Bunga instrumen dasar | Rendah | Fleksibel |
| SBN Ritel | Kupon tetap | Rendah | Terikat tenor |
| Emas | Kenaikan harga | Menengah | Fleksibel |
| Crypto | Kenaikan harga | Tinggi | Sangat fleksibel |
| Saham Amerika | Kenaikan harga | Tinggi | Sangat fleksibel |
Kapan Sebaiknya Tetap Menggunakan Deposito?
Meski punya beberapa keterbatasan, deposito tetap relevan untuk kebutuhan tertentu. Instrumen ini cocok untuk dana darurat jangka pendek yang butuh kepastian nilai pokok dan risiko yang sangat minim.
Deposito juga bisa jadi pilihan tepat kalau kamu punya rencana pengeluaran besar dalam waktu dekat, misalnya untuk uang muka rumah atau biaya pendidikan yang jatuh tempo kurang dari satu tahun, karena kepastian nilainya lebih penting dibanding potensi pertumbuhan tambahan.
Banyak perencana keuangan menyarankan tetap menyisihkan sebagian dana di deposito sebagai bantalan likuiditas, sambil mengalokasikan sisanya ke instrumen lain yang punya potensi pertumbuhan lebih tinggi sesuai tujuan jangka panjangmu.
Bagaimana Cara Memilih Instrumen Pengganti Deposito yang Tepat?
Supaya keputusanmu lebih matang, berikut langkah-langkah yang bisa kamu ikuti sebelum memindahkan dana:
- Tentukan tujuan keuangan. Pastikan kamu tahu dana ini untuk kebutuhan jangka pendek, menengah, atau panjang.
- Kenali profil risikomu. Semakin tinggi toleransi risiko, semakin luas pilihan instrumen yang bisa kamu pertimbangkan.
- Perhatikan kebutuhan likuiditas. Kalau dana sewaktu-waktu dibutuhkan, pilih instrumen yang mudah dicairkan seperti reksadana pasar uang.
- Bandingkan potensi imbal hasil dan risikonya. Jangan hanya tergiur imbal hasil tinggi tanpa memahami risiko di baliknya.
- Mulai dengan porsi kecil. Alokasikan sebagian dana dulu ke instrumen baru sambil tetap mempertahankan sebagian di deposito sebagai dana darurat.
Faktor yang Perlu Diperhatikan Sebelum Pindah dari Deposito
- Penjaminan dana. Deposito dijamin Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) hingga batas tertentu, sementara reksadana, emas, saham, dan crypto tidak memiliki skema penjaminan serupa.
- Biaya transaksi. Beberapa instrumen mengenakan biaya beli-jual atau biaya pengelolaan yang perlu kamu perhitungkan dalam estimasi imbal hasil bersih.
- Kebutuhan dana darurat. Sebaiknya tetap sisihkan sebagian dana di instrumen yang aman dan likuid sebelum mengalokasikan porsi lebih besar ke instrumen berisiko lebih tinggi.
- Jangka waktu investasi. Instrumen dengan volatilitas tinggi seperti saham dan crypto umumnya lebih cocok untuk tujuan jangka panjang, karena fluktuasi harga jangka pendek punya peluang lebih besar untuk mengoreksi diri seiring waktu.
- Mekanisme perpajakan. Bunga deposito dan kupon SBN Ritel dikenakan pajak final, sedangkan keuntungan dari saham dan crypto punya aturan perpajakan tersendiri yang sebaiknya kamu pahami sebelum memutuskan porsi alokasi.
Menariknya, kamu tidak harus memilih salah satu saja. Banyak investor mengombinasikan deposito dengan beberapa instrumen lain sekaligus sebagai bentuk diversifikasi investasi, supaya risiko tidak menumpuk di satu tempat saja. Kalau kamu tertarik mendalami salah satu opsinya, kamu bisa pelajari dulu cara memulai investasi reksadana yang membahas langkah praktisnya dari nol.
Pada akhirnya, deposito tetap punya tempatnya sebagai instrumen yang aman dan sederhana, tapi bukan berarti kamu harus berhenti di situ saja. Kalau kamu ingin mengeksplorasi instrumen lain dengan potensi imbal hasil lebih tinggi, kamu bisa mulai mencoba crypto atau saham Amerika lewat Reku, platform investasi yang telah terdaftar dan diawasi OJK dengan proses pendaftaran yang cepat dan mudah. Sesuaikan porsi alokasinya dengan tujuan keuangan dan profil risikomu sendiri supaya strategi investasi tetap seimbang dalam jangka panjang.
FAQ
- Apakah reksadana pasar uang dijamin LPS seperti deposito? Tidak. Hanya deposito bank yang dijamin LPS hingga batas nominal tertentu, sedangkan reksadana, SBN Ritel, emas, saham, dan crypto tidak masuk skema penjaminan tersebut, meski SBN Ritel dijamin langsung oleh negara.
- Berapa modal minimal untuk mulai reksadana pasar uang? Sebagian besar platform reksadana di Indonesia memungkinkan kamu mulai investasi mulai dari Rp10.000 sampai Rp100.000, jauh lebih terjangkau dibanding setoran awal deposito di sejumlah bank.
- Apakah boleh menggabungkan beberapa instrumen ini sekaligus? Boleh, bahkan disarankan. Kombinasi beberapa instrumen membantu menyeimbangkan potensi imbal hasil dengan tingkat risiko yang kamu bisa terima.
- Instrumen mana yang paling likuid dibanding deposito? Reksadana pasar uang dan crypto umumnya paling mudah dicairkan dalam waktu singkat dibanding SBN Ritel yang punya periode jatuh tempo tertentu.
- Apakah instrumen-instrumen ini cocok untuk investor pemula? Reksadana pasar uang dan SBN Ritel relatif ramah untuk pemula karena risikonya rendah, sementara emas, saham, dan crypto lebih cocok setelah kamu memahami dasar toleransi risiko pribadi.
