Investing
Market
Learning Hub
Security
Fees
Other
Download Reku Apps
google-icon

Reku Campus

Crypto
Saham
Trading
Investasi
Finansial
Teori
Kamus
Cut Loss Saham Berapa Persen? Cara Menentukan Batas yang Masuk Akal
Saham
Share!

Cut Loss Saham Berapa Persen? Cara Menentukan Batas yang Masuk Akal

30 October 2026
5 min read
Cut Loss Saham Berapa Persen? Cara Menentukan Batas yang Masuk Akal

Tidak ada satu angka cut loss saham yang berlaku untuk semua orang. Banyak trader memakai patokan di kisaran 5–10% dari harga beli, dan ada juga yang mengenal aturan 7–8% yang dipopulerkan investor William O’Neil. Namun, batas yang tepat untukmu bergantung pada volatilitas saham, gaya investasi, dan berapa besar kerugian dari total modal yang siap kamu tanggung.

Karena itu, lebih penting memahami cara menentukan batas cut loss daripada sekadar meniru angka orang lain. Artikel ini membahas berbagai pendekatan yang umum dipakai beserta contoh perhitungannya.

Apa Itu Cut Loss Saham?

Cut loss adalah keputusan menjual saham dalam kondisi rugi untuk mencegah kerugian yang lebih besar. Langkah ini biasanya diambil ketika harga bergerak berlawanan dengan rencana awal dan sudah menyentuh batas yang kamu tetapkan.

Cut loss bukan tanda kegagalan, melainkan bagian dari manajemen risiko. Dengan membatasi kerugian, kamu tetap punya modal untuk memanfaatkan peluang lain.

Kenapa Tidak Ada Satu Angka Cut Loss yang Pasti?

Setiap saham dan setiap investor punya kondisi yang berbeda. Beberapa faktor yang membuat batas cut loss bervariasi antara lain:

  • Volatilitas saham. Saham yang biasa bergerak 5% dalam sehari tentu butuh batas lebih longgar dibanding saham yang stabil.
  • Jangka waktu investasi. Trader harian biasanya memasang batas lebih ketat daripada investor jangka panjang.
  • Ukuran posisi. Semakin besar porsi dana pada satu saham, semakin besar dampak kerugiannya terhadap portofolio.
  • Kondisi pasar. Saat pasar sedang sangat bergejolak, pergerakan harga cenderung lebih lebar dari biasanya.

Pendekatan Cut Loss yang Sering Dipakai

Berikut beberapa pendekatan yang umum digunakan investor dan trader untuk menentukan batas cut loss:

PendekatanCara KerjaCocok Untuk
Persentase tetapJual jika harga turun sekian persen dari harga beliPemula yang butuh aturan sederhana
Risiko 1–2% modalKerugian per transaksi dibatasi 1–2% dari total modalTrader aktif
Level supportCut loss diletakkan sedikit di bawah area supportPengguna analisis teknikal
VolatilitasJarak cut loss disesuaikan dengan rata-rata pergerakan hargaSaham yang fluktuatif
FundamentalKeluar saat alasan investasi berubahInvestor jangka panjang

Persentase Tetap dari Harga Beli

Pendekatan ini paling mudah dipahami. Kamu menentukan persentase penurunan tertentu dari harga beli, lalu menjual saham jika batas itu tersentuh. Kelemahannya, persentase yang sama belum tentu cocok untuk semua saham karena karakter pergerakannya berbeda.

Aturan Risiko 1–2% dari Total Modal

Pendekatan ini tidak berfokus pada persentase penurunan harga, melainkan pada besar kerugian terhadap total modal. Banyak trader membatasi kerugian per transaksi sekitar 1–2% dari total modal, lalu menyesuaikan jumlah saham yang dibeli agar batas tersebut tidak terlampaui.

Berdasarkan Level Support

Trader yang memakai analisis teknikal biasanya meletakkan cut loss sedikit di bawah area support. Jika harga menembus support tersebut, skenario kenaikan dianggap gagal sehingga posisi ditutup.

Berdasarkan Volatilitas Saham

Sebagian trader memakai indikator volatilitas, seperti Average True Range (ATR), untuk mengukur rata-rata pergerakan harga. Jarak cut loss lalu dibuat beberapa kali dari nilai tersebut agar tidak mudah tersentuh oleh fluktuasi normal.

Berdasarkan Perubahan Fundamental

Investor jangka panjang sering tidak memakai batas persentase yang kaku. Mereka memilih keluar ketika alasan awal berinvestasi berubah, misalnya kinerja perusahaan memburuk secara konsisten atau prospek bisnisnya tidak lagi menjanjikan.

Cara Menghitung Cut Loss Saham

Supaya lebih mudah dipahami, berikut dua contoh perhitungan menggunakan angka ilustrasi. Angka ini bukan rekomendasi, melainkan sekadar gambaran cara menghitung.

Contoh Cut Loss dengan Persentase Tetap

Misalkan kamu membeli saham di harga US$100 dan menetapkan batas cut loss 8%.

Maka harga cut loss-nya adalah US$100 − (8% × US$100) = US$92. Jika harga turun ke US$92, saham dijual sesuai rencana.

Contoh Ukuran Posisi dengan Aturan 2%

Misalkan total modalmu Rp50 juta dan kamu hanya siap rugi 2% per transaksi, yaitu Rp1 juta. Jika jarak cut loss dari harga beli adalah 8%, maka nilai pembelian maksimal adalah Rp1 juta ÷ 8% = Rp12,5 juta. Dengan cara ini, kerugian tetap terkendali meski cut loss tersentuh.

Kenapa Cut Loss Penting untuk Melindungi Modal?

Semakin besar kerugian, semakin besar pula kenaikan yang dibutuhkan untuk kembali ke modal awal. Hitungannya sebagai berikut:

  • Turun 10% membutuhkan kenaikan sekitar 11,1% untuk kembali impas.
  • Turun 20% membutuhkan kenaikan 25% untuk kembali impas.
  • Turun 50% membutuhkan kenaikan 100% untuk kembali impas.

Inilah alasan banyak trader lebih memilih rugi kecil yang terukur daripada menahan saham yang terus turun tanpa rencana.

Hubungan Cut Loss dengan Risk Reward Ratio

Batas cut loss sebaiknya ditentukan bersama target keuntungan. Perbandingan keduanya dikenal sebagai risk reward ratio. Misalnya, jika kamu siap rugi 5% dan menargetkan untung 10%, rasionya adalah 1:2.

Dengan rasio yang sehat, kamu tidak harus selalu benar untuk tetap menjaga portofolio. Beberapa kerugian kecil masih bisa ditutup oleh keuntungan dari transaksi yang berhasil.

Kesalahan Umum Saat Menentukan Cut Loss

Beberapa kesalahan berikut sering membuat strategi cut loss tidak berjalan efektif:

  • Memasang batas terlalu dekat sehingga posisi tertutup oleh fluktuasi harga yang wajar.
  • Menggeser batas cut loss lebih jauh ketika harga mendekatinya.
  • Menambah posisi pada saham yang terus turun tanpa analisis ulang.
  • Mengambil keputusan karena panik atau FOMO, bukan berdasarkan rencana.
  • Tidak menyesuaikan ukuran posisi dengan batas risiko.

Cut Loss atau Tetap Ditahan?

Tidak semua penurunan harga harus direspons dengan cut loss. Investor jangka panjang yang yakin dengan fundamental perusahaan mungkin memilih bertahan, sementara trader jangka pendek lebih disiplin mengikuti batas yang sudah ditetapkan. Pertimbangan semacam ini juga sering muncul dalam perdebatan cut loss atau HODL di dunia kripto.

Kuncinya adalah konsistensi dengan rencana awal. Apa pun pilihanmu, keputusan sebaiknya diambil sebelum membeli, bukan saat harga sudah jatuh.

Tips Disiplin Menjalankan Cut Loss

Agar strategi cut loss benar-benar bekerja, kamu bisa menerapkan langkah-langkah berikut:

  1. Tentukan batas cut loss sebelum membeli saham, lalu catat alasannya.
  2. Gunakan order otomatis, misalnya dengan memahami cara pasang stop loss dan take profit, agar tidak bergantung pada emosi.
  3. Sesuaikan jumlah saham dengan batas risiko modal.
  4. Catat setiap transaksi dalam jurnal trading untuk dievaluasi.
  5. Tinjau strategi secara berkala sebagai bagian dari manajemen risiko investasi.

Dimana Bisa Trading Saham AS dengan Fitur Stop Loss?

Aplikasi Reku bisa jadi pilihan terbaik untuk menerapkan strategi cut loss saat berinvestasi saham Amerika. Reku menyediakan berbagai tipe order seperti limit order dan stop loss, sehingga kamu bisa menentukan batas harga jual sejak awal untuk saham Amerika seperti AAPL, NVDA, atau ETF SPY.

Saham AS di Reku bisa dibeli mulai dari $1 dengan fractional share. Untuk trading kripto futures, Reku juga menghadirkan fitur TP/SL yang menjual posisi secara otomatis saat harga menyentuh target keuntungan atau batas kerugian yang kamu tetapkan.

FAQ Seputar Cut Loss Saham

Cut loss saham idealnya berapa persen?

Tidak ada angka ideal yang berlaku untuk semua orang. Banyak trader memakai patokan 5–10%, tetapi batas yang tepat sebaiknya disesuaikan dengan volatilitas saham dan risiko modal yang siap kamu tanggung.

Apakah cut loss 10% terlalu besar?

Tergantung karakter sahamnya. Untuk saham yang fluktuatif, 10% bisa masih wajar, sedangkan untuk saham yang stabil batas ini mungkin terasa terlalu longgar.

Apa bedanya cut loss dan stop loss?

Cut loss adalah keputusan menjual saham dalam kondisi rugi, sedangkan stop loss adalah jenis order yang menjalankan penjualan secara otomatis saat harga menyentuh batas tertentu.

Apakah investor jangka panjang perlu cut loss?

Investor jangka panjang tetap perlu batas risiko, meski biasanya lebih berfokus pada perubahan fundamental perusahaan daripada persentase penurunan harga.

Bagaimana jika harga naik lagi setelah cut loss?

Hal ini wajar terjadi. Evaluasi apakah batas cut loss terlalu ketat, lalu jadikan pelajaran tanpa mengubah prinsip disiplin dalam strategi trading.

Disclaimer: Artikel ini hanya bertujuan sebagai informasi dan edukasi, bukan ajakan atau rekomendasi untuk membeli maupun menjual aset tertentu. Investasi memiliki risiko, jadi pastikan kamu melakukan riset sendiri sebelum mengambil keputusan.

Nico R. K
AuthorNico R. KSeorang content writer berpengalaman 5+ tahun membuat artikel seputar crypto, saham, investasi, dan finansial di Reku.
Share!
Related Articles
    Interested in Disney Stocks? Here’s How to Buy Them from Indonesia
  1. Interested in Disney Stocks? Here’s How to Buy Them from Indonesia
  2. 23 July 2025
    1 min read
    Saham
    18 Best U.S. Stocks for You in 2025
  3. 18 Best U.S. Stocks for You in 2025
  4. 09 July 2025
    1 min read
    Saham
    Latest U.S. Stock Market Opening Hours in Indonesia Time
  5. Latest U.S. Stock Market Opening Hours in Indonesia Time
  6. 15 June 2025
    1 min read
    Saham
Analysis
In-depth market analysis
Blog
Learn more about crypto
FAQ
Find out the latest Crypto and Stock news
Market
Start exploring and investing in Crypto assets and US Stocks on Reku